Connect with us

NASIONAL

Abraham Samad Bongkar Bahaya Baru Korupsi di Indonesia

Aktualitas.id -

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Praktik korupsi di Indonesia kini bermutasi menjadi ancaman yang jauh lebih mematikan. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad membongkar bahwa Indonesia saat ini tengah dicengkeram oleh state capture corruption, sebuah kondisi di mana kepentingan segelintir pihak telah berhasil menyetir kebijakan dan institusi negara.

Dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (4/9/2026), Samad menegaskan korupsi masa kini bukan lagi sekadar pencurian uang kas negara. Negara secara sistematis telah dibajak.

“Ternyata Indonesia sampai detik ini belum mampu melawan bahkan memberantas korupsi yang sifatnya state capture corruption,” tegas Samad, dikutip Minggu (6/9/2026).

Samad menyoroti tajam borok sistem penegakan hukum sebagai biang kerok mandeknya pemberantasan korupsi. Ia menilai aparat yang tidak independen dan gemar menyalahgunakan wewenang membuat hukum kehilangan taji. Solusinya, Indonesia mendesak butuh perombakan sistem peradilan pidana dan grand design pemberantasan korupsi yang komprehensif. “Jangan pernah berharap pemberantasan korupsi bisa ditangani oleh aparat penegak hukum yang abuse of power,” cetusnya.

BACA JUGA  Abraham Samad Menduga Ada Skenario di Balik TWK KPK

Dalam forum yang sama, tokoh-tokoh lain turut menyoroti ancaman degradasi dari sisi sosial, budaya, dan teknologi. Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengingatkan bahwa ruang digital kini berpotensi mematikan nalar dan mengobarkan emosi lewat banjir hoaks dan sensasi.

Mengibaratkan informasi sebagai air, Komaruddin yakin masyarakat perlahan akan muak dengan “lumpur” dan mulai mencari “air bersih” berupa berita kredibel dan terverifikasi. Ia juga memperingatkan generasi muda agar tidak tunduk pada kecerdasan buatan (AI) yang nir-hati. “Jangan puas menjadi content creator. Jadilah idea creator,” tegasnya.

Dari kacamata kebudayaan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menempatkan budaya sebagai fondasi dan investasi, bukan sekadar beban biaya (cost center). Ia menegaskan Indonesia adalah civilizational state dengan peradaban panjang, di mana kebudayaan harus menjadi soft power dan jangkar identitas di tengah perubahan dunia yang beringas.

BACA JUGA  Abraham Samad Diperiksa Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Hari Ini

Sementara itu, pakar perubahan Rhenald Kasali menyoroti fenomena human disruption. Teknologi kini tak sekadar merombak lanskap bisnis, tetapi langsung meretas otak manusia – mengubah rentang perhatian, perilaku, dan identitas. Ironisnya, meski internet meruntuhkan monopoli pengetahuan dari institusi pendidikan, kemudahan ini tidak otomatis membuat manusia lebih berdaya di tengah gempuran algoritma. (Bowo/Mun)

TRENDING