Connect with us

POLITIK

Kang Agun Sentil Politik Uang Pemilu 2024

Aktualitas.id -

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Praktik politik uang yang merajalela pada Pemilu 2024 menuai kritik tajam dari kalangan parlemen. Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, melempar pernyataan menohok dengan menyebut pesta demokrasi lima tahunan tersebut sungguh-sungguh telah kehilangan integritasnya.

“Pemilu 2024 yang lalu itu, menurut saya, pemilu yang sungguh-sungguh tidak berintegritas. Pemilu yang marak dengan politik uang,” tegas sosok yang akrab disapa Kang Agun tersebut dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, gempuran imbalan materi telah mencederai kualitas demokrasi karena mengesampingkan rekam jejak, kapasitas, dan integritas para calon. Jika kebiasaan buruk ini terus dibiarkan, masa depan kepemimpinan bangsa dipastikan berada dalam ancaman besar.

BACA JUGA  BRIN Khawatir Persiapan Pemilu 2029 Terganggu Jika RUU Molor

Menatap Pemilu 2029, Kang Agun mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI untuk tidak tinggal diam dan segera memperkuat kolaborasi pendidikan pemilih secara masif. Penekanan khusus diarahkan kepada generasi muda—seperti pelajar SMA/SMK dan mahasiswa—melalui pendekatan teknologi digital yang sesuai dengan gaya hidup pemilih pemula.

“Saya mendorong KPU bersama berbagai pihak memanfaatkan teknologi digital agar pemilih pemula mampu menilai calon secara kritis, serta tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun iming-iming materi,” ujarnya.

Tak hanya menyentil praktik money politics, Agun juga melayangkan peringatan keras terhadap fenomena apatisme atau golput. Menurutnya, memilih untuk tidak menggunakan hak pilih bukanlah sebuah solusi, melainkan awal dari munculnya kebijakan publik yang merugikan selama lima tahun ke depan.

BACA JUGA  Ahmad Doli Dorong Pilkada DPRD Tidak Lagi Paket Kepala-Wakil

“Kalau Anda tidak memilih, Anda juga menciptakan ketidakpastian, bahkan mungkin keburukan untuk kehidupan Anda sendiri selama lima tahun ke depan,” cetusnya menegaskan.

Kualitas demokrasi tak sekadar diukur dari tingginya angka partisipasi di TPS, melainkan dari kedewasaan dan rasionalitas rakyat dalam menentukan arah bangsa. Pendidikan politik berkelanjutan menjadi harga mati agar Pemilu 2029 tidak kembali terjebak dalam pusaran transaksi haram politik uang. (Mun)

TRENDING