Indonesia Dikepung Virus, Jangan Egois, Bro!


Warga borong maker/Istimewa

AKTUALITAS.ID – Usai China yang berangsur sembuh dari ‘sakit’ akibat serangan virus covid-19 yang menggegerkan itu, kini giliran Indonesia yang berjibaku melawan virus dengan tingkat penularan cepat itu.

Social distancing digaungkan pemerintah. Pembatasan orang berkumpul, termasuk beribadah di rumah-rumah ibadah disosialisasikan dengan massif dan gencar untuk memutus rantai penularan virus corona.

Terkait wabah ini, di Jakarta, Gubernur Anies memutuskan bahwa mulai 20 Maret 2020 kemarin, ibu kota ditetapkan sebagai wilayah tanggap darurat bencana wabah Covid-19. Pasalnya, Jakarta merupakan provinsi dengan kasus pasien positif Covid-19 terbanyak dan sudah mencapai 267 orang.

Selain itu, Jakarta juga tertinggi untuk jumlah pasien Covid-19 yang meninggal, yakni sebanyak 18 orang. Sementara menurut data pada 21 Maret 2020, di seluruh Indonesia sudah ada 450 pasien positif Covid-19 yang menyebar di 17 provinsi. Sebanyak 38 orang meninggal, sementara 20 orang dinyatakan sembuh.

Guna mengantisipasi bertambahkan kasus positif COVID-19, pemerintah mulai melakukan pemeriksaan massal melalui rapid test, yaitu tes massal yang menggunakan spesimen darah untuk mendeteksi virus Corona.

Alat rapid test yang berasal dari China ini bisa bekerja dengan cepat sekitar 15 menit hingga 3 jam untuk memperoleh indikasi awal apakah seseorang positif terinfeksi COVID-19 atau tidak.

Namun, pemeriksaan massal tidak akan dilakukan kepada semua orang dan hanya dilakukan pada orang-orang yang dianggap berisiko tinggi,yaitu mereka yang berhubungan dengan pasien positif dalam rentang waktu 14 hari ke belakang. Misalnya, rekan kerja atau anggota keluarga pasien positif covid-19..

Sayangnya,di saat seluruh komponen bangsa bergotong royong, bahu-membahu dan saling dukung agar Indonesia segera terbebas dari serangan virus yang pertama kali ditemukan di China ini, ada saja ‘penjahat’ masker dan hand sanitizer yang mencoba memancing di air keruh.

Mereka dengan tanpa hati, tega mengeruk keuntungan materi, lalu dengan sengaja menimbun dan menjual dua barang paling dibutuhkan itu dengan harga tak wajar.

Mereka, para manusia serakah itu- tidak peka bahwa yang mereka lakukan itu sama saja dengan menyengsarakan bahkan ‘membunuh’ banyak orang yang sedang berjuang menyelamatkan sanak keluarganya. Tobatlah bro,hidup bukan melulu soal rupiah!

Dan yang menyesakkan lagi, di tengah hiruk-pikuk melawan virus corona yang sedang mewabah, ternyata Indonesia juga dihadapkan pada masalah lain yang tak kalah memprihatinkan. Masalah itu adalah melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi pada awal 2020.

Kemenkes mengumumkan jumlah kasus DBD di Indonesia menembus angka 16 ribu selama periode Januari hingga awal Maret 2020. Dari jumlah tersebut, 100 orang meninggal dunia.

Salah satu daerah yang berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah DBD adalah Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur. Dinkes Kabupaten Sikka mencatat bahwa pada Maret 2020 jumlah kasus DBD mencapai 1000-an kasus.

Selain di NTT, wabah DBD juga terjadi di Jawa Barat. Dinkes setempat mencatat sebanyak 4.600 orang terjangkit dan 16 di antaranya meninggal pada triwulan pertama 2020. Kemudian di Jawa Timur, tercatat ada 2.016 kasus dengan pasien meninggal sebanyak 20 orang pada medio Januari-Maret 2020.

Sungguh bukan hal yang mudah bagi bangsa ini menghadapi pandemi yang mengancam jiwa warganya. Negara hadir untuk memastikan keselamatan warganya, itu pasti dan memang sudah dilakukan.

Namun kesadaran masyarakat untuk mengikuti dan disiplin mengikuti aturan yang ditetapkan adalah kunci utama demi kemaslahatan semuanya. Yang pasti jangan pernah menganggap sepele masalah ini. Jangan egois. Ingatlah bahwa keselamatan orang lain juga tergantung bagaimana Anda berperilaku.

Marilah sama-sama menyebarkan optimisme, bertindak nyata, dan bergotong royong, karena itulah yang akan membuat kita kuat. Terakhir, setelah semua ikhtiar dilakukan, jangan lupa berdoalah agar tetap damai hatimu. [Samsu/Red]