Berita
Saat Pilkada 2020, Mendagri Minta KPU Larang Arak-arakan
AKTUALITAS.ID – Arak-arakan pendukung kandidat menjadi salah satu kemeriahan saat pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) ketika pilkada. Namun untuk Pilkada serentak 2020 hal tersebut ditiadakan di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Bahkan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta KPU, untuk menyampaikan pelarangan tersebut kepada para kandidat yang akan bertarung di Pilkada. “Pada saat proses […]
AKTUALITAS.ID – Arak-arakan pendukung kandidat menjadi salah satu kemeriahan saat pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) ketika pilkada. Namun untuk Pilkada serentak 2020 hal tersebut ditiadakan di tengah pandemi COVID-19 saat ini.
Bahkan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta KPU, untuk menyampaikan pelarangan tersebut kepada para kandidat yang akan bertarung di Pilkada.
“Pada saat proses pendaftaran, penelitian, penetapan calon sampai pengundian, itu saya sudah sampaikan kepada KPU (untuk) jangan ditoleransi, adanya arak-arakan, konvoi ramai-ramai dengan pakaian adat,” kara Tito melalui pesan tertulis, Minggu, (19/7 2020).
Mantan Kapolri ini meminta, para kandidat dan pendukung memanfaatkan teknologi komunikasi seperti media sosial. Sehingga pendukung tetap menyaksikan momen pendaftaran di KPU dan pengambilan nomor urut peserta pilkada.
“Tolong dibatasi, mungkin pasangan calonnya saja dengan pendamping dua orang, yang lainnya nobar saja di tempat posko masing-masing, nonton virtual di media,” ujarnya.
Tito kembali menekankan agar Pilkada 2020 tak menjadi media penularan COVID-19. Ia meminta peserta pilkada dan masyarakat menerapkan protokol kesehatan yang telah diatur sedemikian rupa, dalam peraturan KPU maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
“Kalau tidak, ramai-ramai akan menjadi media penularan, tidak boleh kemudian nanti yang rawan di masa kampanye 26 September sampai 5 Desember, ini juga sama, saya juga sudah sampaikan tidak boleh ada arak-arakan, tidak boleh ada konvoi,” kata Tito.
Tak hanya masa krusial dalam pendaftaran calon pasangan maupun masa kampanye, Tito juga meminta, semua pihak mengikuti aturan protokol kesehatan selama masa pencoblosan 9 Desember. Selain itu, pembatasan jumlah pemilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) harus dilaksanakan.
“Kalau bisa undang-undang mengatakan dari jam 7 sampai jam 12, (durasi) 6 jam, kalau 500 pemilih maksimal per TPS maka diatur jamnya, misalnya nomor 1 sampai 80 itu di jam 7 sampai 8, dan seterusnya. Itu bisa diatur jaga jarak, (ketika) selesai, mereka tidak boleh berkumpul, silakan kembali (ke rumah),” katanya.
-
NUSANTARA15/08/2026 18:30 WIBGempa M 6,4 Simalungun Bikin Warga Medan Hingga Aceh Berhamburan Keluar Rumah
-
NASIONAL15/08/2026 19:00 WIBKemhan Beri Restu Logonya Dipasang di Kapal Haji Isam
-
NASIONAL15/08/2026 13:00 WIBAmnesty: Pidato Prabowo Disebut Minim Bahas HAM
-
NUSANTARA15/08/2026 11:30 WIBGempa M7 NTT Telan 5 Korban Jiwa
-
NUSANTARA15/08/2026 10:30 WIBGempa M7 Rusak Rumah hingga Hotel di NTT
-
NASIONAL15/08/2026 17:00 WIBEddy Soeparno Desak MBG Dibersihkan dari Masalah
-
NUSANTARA15/08/2026 09:30 WIB10 Wilayah Diterjang Tsunami Usai Gempa M7
-
NASIONAL15/08/2026 16:00 WIBDasco Pastikan Perpres Ojol Hampir Final

















