Berita
Soal Harga BBM RI ‘Mahal’, Pertamina: Kilang Hanya Mampu Mengolah 3 Persen Minyak Mentah
AKTUALITAS.ID – PT Pertamina (Persero) mengungkapkan alasan kenapa harga BBM di dalam negeri sulit ditekan. Menurut mereka, kondisi tersebut dipicu biaya produksi yang tinggi. Biaya produksi mahal terjadi karena kilang perusahaan hanya bisa mengolah jenis minyak tertentu. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menuturkan kilang perusahaan hanya mampu mengolah 3 persen dari minyak mentah dunia. “Jenis […]
AKTUALITAS.ID – PT Pertamina (Persero) mengungkapkan alasan kenapa harga BBM di dalam negeri sulit ditekan. Menurut mereka, kondisi tersebut dipicu biaya produksi yang tinggi.
Biaya produksi mahal terjadi karena kilang perusahaan hanya bisa mengolah jenis minyak tertentu. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menuturkan kilang perusahaan hanya mampu mengolah 3 persen dari minyak mentah dunia.
“Jenis minyak mentah yang bisa diolah di kilang kami sangat terbatas, hanya sekitar 3 persen dari minyak mentah dunia. Ini yang menyebabkan harga tinggi. Supply dan demand kurang seimbang,” ungkap Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (5/10/2020).
Ia mengatakan untuk mengatasi masalah itu, Pertamina kini sedang melakukan modifikasi kilang eksisting atau refinery development master plan (RDMP). Selain itu, perusahaan juga mengembangkan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR).
“Dengan moderinisasi kilang-kilang yg ada maka akan memperbaiki fleksibilitas minyak mentah yang diolah. Dengan begitu, harga minyak mentah bisa kami tekan dan akan berpengaruh pada produksi, dengan begitu harga BBM akan affordable,” papar Nicke.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Kilang Pertamina International (KPI) Ignatius Tallulembang mengatakan rata-rata kilang di Indonesia sekarang ini memang sudah berumur tua. Bahkan, ada yang berusia hampir 100 tahun.
“Kami ada enam kilang yang beroperasi dengan kapasitas terpasang 1 juta barel per hari,” kata dia.
Salah satu kilang yang berusia cukup tua adalah Kilang Balongan. Kilang tersebut dibangun pada 1990 dan beroperasi pada 1994 silam.
“Sudah 26 tahun (Kilang Bontang). Tapi ada (kilang lain) yang sudah berusia 36 tahun, 50 tahun, dan ada yang hampir 100 tahun,” terang Ignatius.
Sebelumnya, Ignatius menyatakan perusahaan membutuhkan dana US$48 miliar atau sekitar Rp672 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) untuk proyek pengembangan kilang RDMP dan GGR hingga 2027 mendatang.
Proyek RDMP dan GRR tersebut tersebar di beberapa lokasi yakni Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia Timur.
Ignatius menambahkan bahwa investasi pembangunan kilang penting meski membutuhkan dana besar. Pasalnya, selama 30 tahun, Indonesia belum pernah membangun kilang untuk menambah kapasitas produksi BBM dari dalam negeri.
-
DUNIA02/05/2026 12:00 WIBSenator AS Ungkap Trump Rancang Serangan ke Iran
-
RIAU02/05/2026 16:00 WIBSindikat Narkoba Lintas Negara Dibekuk di Meranti, Polda Riau Sita 27 Kg Sabu
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 16:30 WIBYan Mandenas dan Kapolda PPT Pantau Pendistribusian dan Cek Kesiapan Stok Beras di Bulog KC Timika
-
EKBIS02/05/2026 17:30 WIBBeri Dampak Sosial-Ekonomi, Danantara Evaluasi Beragam Peluang
-
JABODETABEK02/05/2026 05:30 WIBCuaca Hari Ini: Jakarta Berawan dan Hujan Bergantian
-
NASIONAL02/05/2026 06:00 WIBDPR: Negara Tak Berhak Tentukan Aktivis HAM
-
POLITIK02/05/2026 10:00 WIBPKS: Usulan Yusril Soal Threshold Masuk Akal
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 23:00 WIBAntusiasme Tinggi Warnai Upacara Hardiknas di SD Naena Kekwa Bersama Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika

















