Berita
AS Prihatin Kebijakan Keras Prancis Perangi Islam Radikal
Utusan Amerika Serikat untuk urusan kebebasan beragama internasional menyuarakan keprihatinan soal kebijakan keras Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menargetkan Islam radikal. “Saya jelas prihatin atas apa yang terjadi di Prancis. Saya pikir mungkin perlu ada keterlibatan yang konstruktif yang menurut saya bisa membantu dan tidak berbahaya. Ketika anda menjadi keras, situasinya bisa menjadi lebih buruk,” […]
Utusan Amerika Serikat untuk urusan kebebasan beragama internasional menyuarakan keprihatinan soal kebijakan keras Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menargetkan Islam radikal.
“Saya jelas prihatin atas apa yang terjadi di Prancis. Saya pikir mungkin perlu ada keterlibatan yang konstruktif yang menurut saya bisa membantu dan tidak berbahaya. Ketika anda menjadi keras, situasinya bisa menjadi lebih buruk,” kata Duta Besar Sam Brownback kepada wartawan di Washington pada Selasa (8/12).
Pernyataan itu diutarakan Brownback setelah Macron memerintahkan Prancis perang melawan ekstremis Islam.
Pernyataan itu diutarakan Macron merespons pemenggalan guru sejarah sebuah sekolah di Prancis yang dilakukan oleh imigran Muslim berasal dari Chechnya pada 16 Oktober.
Pemenggalan itu dilakukan sebagai bentuk balasan setelah sang guru sempat membahas karikatur Nabi Muhammad yang kembali dipublikasikan majalah satir Charlie Hebdo di kelasnya.
Dalam inisiatif Macron tersebut, Prancis mengancam akan menutup masjid-masjid jika ketahuan mengajarkan serta mempromosikan paham radikal dan ekstremisme.
Brownback mengutuk kekerasan berlatar-belakang agama. Namun, ia mengatakan, “jika Anda menjalankan keyakinan Anda secara damai, Anda berhak untuk mempraktikan keyakinan tersebut”.
Kebijakan Macron tersebut juga memicu protes di beberapa negara mayoritas Muslim. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Pakistan bahkan Imran Khan menuduh Macron ingin menyerang Islam secara keseluruhan.
Menanggapi kritikan itu, Macron menyatakan Prancis hanya ingin memastikan yang terbaik dalam melindungi warganya.
“Kami pikir negara-negara akan melakukan yang terbaik ketika mereka bekerja dengan para pemimpin agama dalam mengidentifikasi keprihatinan dan masalah, serta tidak berselisih dengan kelompok agama,” kata Macron.
“Mereka memiliki hak kebebasan beragama yang fundamental dan mereka perlu dihormati dan dilindungi pemerintah,” ucapnya menambahkan seperti dilansir AFP.
-
POLITIK02/06/2026 16:30 WIBPolemik Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Pengamat: Presiden Harus Contohkan Efisiensi
-
NASIONAL02/06/2026 12:15 WIBTan Malaka: Bapak Republik yang Bermimpi Indonesia Merdeka 100 Persen
-
POLITIK02/06/2026 19:16 WIBPengamat Kritik Respons Teddy ke Dino Patti Djalal: Lebih Baik Jadi Ajudan
-
PAPUA TENGAH02/06/2026 20:31 WIBAtlet Mimika Wrestle Mansawan Bersinar di Turnamen Flag Football Internasional Tiongkok
-
EKBIS02/06/2026 09:30 WIBIHSG Jadi Raja Asia Pagi Ini
-
JABODETABEK02/06/2026 15:31 WIBTragis! ART di Bogor Tewas Diduga Disiksa Rekan Sendiri
-
NASIONAL02/06/2026 16:00 WIBSeskab Teddy Sentil Masa Jabatan Dino Patti Djalal, Anies Baswedan Buka Suara
-
NASIONAL02/06/2026 17:10 WIBUsulan Prabowo soal Bahasa Prancis dan Portugis Masih Dikaji Kemendikdasmen

















