DUNIA
Tolak Negosiasi Dengan Israel, Hizbullah Serukan Persatuan Lebanon
AKTUALITAS.ID – Militer Israel terus melakukan serangan udara harian di wilayah Lebanon, yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian permusuhan.
Hizbullah menyerukan persatuan nasional Lebanon dalam menghadapi pelanggaran Israel di Lebanon selatan, sekaligus menolak segala bentuk negosiasi politik dengan Tel Aviv.
“Kondisi saat ini menuntut persatuan nasional untuk menghadapi agresi dan menolak segala upaya menuju negosiasi politik baru dengan musuh,” kata Hizbullah dalam surat terbuka kepada Presiden Joseph Aoun, Perdana Menteri Nawaf Salam, Ketua Parlemen Nabih Berri, dan rakyat Lebanon, pada Kamis (6/11/2025).
Kelompok tersebut menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepahaman nasional, perlindungan kedaulatan, serta pemeliharaan keamanan dan stabilitas Lebanon, berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang dicapai dengan Israel pada akhir 2024.
“Lebanon dan Hizbullah telah mematuhi ketentuan Resolusi PBB 1701 sejak diadopsi, sementara musuh Zionis (Israel) terus melakukan pelanggaran darat, laut, dan udara,” lanjut pernyataan itu.
Menurut perjanjian gencatan senjata, militer Israel seharusnya mundur dari Lebanon selatan pada Januari tahun ini, namun hanya menarik sebagian pasukan dan masih mempertahankan keberadaan militer di lima pos perbatasan.
“Israel tidak mematuhi kesepakatan penghentian permusuhan tetapi terus melakukan upaya pemerasan politik serta upaya untuk memaksakan syarat yang menguntungkan kepentingannya,” tegas Hizbullah.
Hizbullah juga menekankan bahwa rencana pemerintah Lebanon untuk memonopoli kepemilikan senjata harus menjadi bagian dari strategi pertahanan dan perlindungan kedaulatan nasional yang komprehensif bukan hasil tekanan eksternal.
Pada 5 Agustus, pemerintah Lebanon menyetujui rencana, berdasarkan proposal yang diajukan utusan Khusus AS Tom Barrack, untuk menempatkan seluruh senjata, termasuk milik Hizbullah, di bawah kendali negara dan menugaskan militer untuk menyusun serta melaksanakan rencana tersebut sebelum akhir 2025.
Sementara itu, Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, berulang kali menolak langkah tersebut dan menegaskan bahwa pasukan Israel harus sepenuhnya menarik diri dari wilayah Lebanon sebelum senjata dapat diserahkan.
Belum ada komentar langsung dari otoritas Lebanon terkait surat tersebut.
Militer Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 lainnya dalam serangannya terhadap Lebanon yang dimulai pada Oktober 2023 dan berkembang menjadi ofensif skala penuh pada September 2024.
(Purnomo/goeh)
-
DUNIA06/09/2026 15:00 WIBAS Klaim Ledakkan 3 Tanker Minyak Iran
-
NASIONAL06/09/2026 16:00 WIBBandara Soetta Ditutup Lagi hingga 17.30 WIB
-
DUNIA06/09/2026 12:00 WIBAS Kucurkan Paket Senjata Rp88 T ke Saudi
-
NASIONAL06/09/2026 17:00 WIBAnak Krakatau Erupsi, Prabowo Minta Warga Tetap Tenang dan Waspada
-
NASIONAL06/09/2026 14:00 WIBKoalisi Sipil Desak MA-KY Bongkar Putusan Banding Kasus Andrie Yunus
-
POLITIK06/09/2026 13:00 WIBAHY Tegaskan TNI-Polri Wajib Netral Saat Pemilu
-
NASIONAL06/09/2026 18:00 WIBMaruarar Sirait Targetkan Bedah Rumah di Bukit Duri Rampung 1 Desember 2026
-
DUNIA06/09/2026 21:00 WIBPBB Bongkar Pengusiran 33 Ribu Warga Palestina di Tepi Barat

















