Connect with us

DUNIA

Kim Yo Jong Sebut Jepang Penjahat Perang

Aktualitas.id -

Kim Jong Un (kiri) dan adik perempuannya, Kim Yo Jong, saat menghadiri pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada 27 April 2018. (Sumber: Pyongyang Press Corps Pool via AP)

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Asia Timur kembali meningkat setelah Korea Utara melontarkan ancaman keras kepada Jepang menyusul keberhasilan Tokyo melakukan uji coba rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat. Adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menuding Jepang tengah mempercepat agenda militer dan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memicu respons yang lebih keras dari Pyongyang.

Dalam pernyataan resmi yang disiarkan Korea Central News Agency (KCNA), Kim Yo Jong menyebut uji coba Tomahawk bukan sekadar bagian dari penguatan pertahanan, melainkan upaya terselubung Jepang untuk memperluas kekuatan militernya.

“Sudah jelas bahwa langkah tersebut pada akhirnya adalah taktik terselubung untuk menutupi ambisi menjadi raksasa militer,” kata Kim Yo Jong.

BACA JUGA  Jika Ingin Berdamai, Adik Kim Jong-un Beri Syarat ke Korsel

Ia juga menuduh Jepang telah melampaui batas kemampuan pertahanan yang selama ini menjadi dasar kebijakan keamanan negara tersebut pasca-Perang Dunia II.

Kim Yo Jong bahkan kembali mengungkit sejarah Jepang sebagai negara agresor pada masa perang dan menyerukan agar dunia internasional lebih waspada terhadap arah kebijakan pertahanan Tokyo.

Menurutnya, peringatan diplomatik saja tidak akan cukup menghentikan ambisi Jepang.

“Kita harus membuat mereka menyesal,” tegasnya.

Pernyataan keras Pyongyang muncul setelah Jepang sukses melaksanakan uji coba pertama rudal jelajah Tomahawk dari salah satu kapal perusaknya pekan lalu.

Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan peluncuran berlangsung sesuai rencana dan berhasil memverifikasi kesiapan sistem senjata maupun kemampuan awak kapal dalam kondisi operasional.

BACA JUGA  Supaya Tak Stres Urus Negara, Kim Jong-un Lempar Sebagian Kewenangan ke Adik

Uji coba tersebut merupakan bagian dari modernisasi pertahanan Jepang yang dipercepat sejak pemerintah mengadopsi Strategi Keamanan Nasional 2022. Kebijakan itu membuka ruang bagi Jepang untuk memiliki kemampuan serangan balasan terhadap pangkalan musuh apabila terjadi ancaman bersenjata, meski tetap berada dalam kerangka konstitusi yang membatasi penggunaan kekuatan militer.

Selama puluhan tahun setelah kekalahan pada Perang Dunia II, Jepang membatasi kemampuan militernya dan mengandalkan Japan Self-Defense Force (JSDF) sebagai pasukan pertahanan. Namun, perubahan lingkungan keamanan di kawasan, termasuk meningkatnya aktivitas rudal Korea Utara dan ketegangan di Selat Taiwan, mendorong Tokyo memperkuat postur pertahanannya.

Pernyataan Kim Yo Jong memperlihatkan bahwa langkah Jepang kini menjadi perhatian serius Pyongyang. Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi tindakan militer langsung dari Korea Utara sebagai respons atas uji coba tersebut.

BACA JUGA  Adik Kim Jong-un Kecam Menlu Korsel Tak Percaya Korut Nihil Kasus Covid-19

Ancaman terbaru ini diperkirakan akan semakin memperkeruh dinamika keamanan di Asia Timur, di tengah meningkatnya perlombaan modernisasi persenjataan dan ketegangan geopolitik yang melibatkan Korea Utara, Jepang, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya. (Mun)

TRENDING