Connect with us

DUNIA

Ngeri! Hutan Indonesia Hangus 12 Kali Luas Kota London

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2026 disebut telah mencapai skala yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan lembaga pemantau deforestasi Nusantara Atlas, luas wilayah yang terbakar hingga akhir September mencapai hampir 1,9 juta hektare, atau setara sekitar 12 kali luas Kota London, Inggris.

Temuan tersebut memperlihatkan besarnya dampak karhutla yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan yang dalam beberapa bulan terakhir diselimuti kabut asap tebal.

Pendiri Nusantara Atlas, David Gaveau, mengungkapkan hingga akhir September luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 1.916.588 hektare. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 38 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019.

BACA JUGA  INFOGRAFIS: Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia

Menurut Gaveau, angka itu sebenarnya masih merupakan perhitungan konservatif. Luas kebakaran yang sesungguhnya diperkirakan lebih besar karena sejumlah faktor teknis menghambat pemantauan satelit.

Salah satu kendala terbesar adalah kabut asap tebal yang menutupi banyak area terdampak kebakaran sehingga menyulitkan proses identifikasi dari udara.

“Estimasi luas lahan terbakar kami bersifat konservatif karena dua alasan. Pertama, kami tidak menyertakan bekas kebakaran yang luasnya kurang dari 6,25 hektare. Kedua, kami memprioritaskan untuk menghindari deteksi yang keliru,” kata Gaveau.

Selain itu, Nusantara Atlas sengaja tidak memasukkan area bekas kebakaran berukuran kecil untuk meminimalkan kemungkinan salah deteksi dalam analisis citra satelit.

Akibat keterbatasan tersebut, luas kebakaran yang dilaporkan diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

BACA JUGA  12 Tersangka Karhutla Kalteng Terjaring Polisi

“Oleh karena itu, total luas lahan terbakar yang dilaporkan lebih rendah daripada luas lahan yang sebenarnya terbakar,” ujar Gaveau.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa skala karhutla tahun 2026 berpotensi mendekati bencana kebakaran besar yang pernah terjadi pada 2015, salah satu episode karhutla terparah dalam sejarah Indonesia.

Meski Nusantara Atlas tidak memiliki data satelit pembanding untuk tahun 2015 karena teknologi yang digunakan saat ini belum tersedia kala itu, Gaveau menilai sejumlah indikator menunjukkan kondisi tahun ini sangat mengkhawatirkan.

Menurutnya, peningkatan jumlah titik panas atau hotspot yang terus terjadi menjadi sinyal bahwa kebakaran masih berkembang di banyak wilayah.

“Intuisi saya mengatakan kondisinya mungkin sama buruknya. Jika melihat jumlah titik panas, trennya terus meningkat,” katanya.

BACA JUGA  Menkes Belum Dapat Laporan Bayi Meninggal Akibat Kabut Asap

Sementara itu, pemerintah hingga kini belum merilis pembaruan data luas karhutla terbaru setelah sebelumnya melaporkan sekitar 202 ribu hektare lahan terbakar hingga akhir Juli.

Lonjakan luas kebakaran yang terdeteksi oleh citra satelit tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak kabut asap, kerusakan ekosistem, gangguan kesehatan masyarakat, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Dengan musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, perhatian kini tertuju pada efektivitas langkah penanganan dan pencegahan yang dilakukan pemerintah untuk menekan meluasnya kebakaran hutan dan lahan. (Mun)

TRENDING