Connect with us

DUNIA

Tujuh Syarat Iran Bisa Mengubah Peta Konflik Timur Tengah

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kian mendidih. Iran secara terang-terangan menyandera urat nadi pasokan energi global dengan menutup rapat Selat Hormuz. Teheran menegaskan tidak akan ada negosiasi damai, apalagi pembukaan jalur laut, sebelum Amerika Serikat tunduk pada tujuh syarat mutlak yang mereka ajukan.

Kepala Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, melontarkan ancaman mematikan. Ia menegaskan Teheran sudah muak dengan diplomasi masa lalu yang hanya bermodalkan janji manis dan “itikad baik politik”. Jika Washington bersikeras memperpanjang konflik, Iran tidak akan segan meluncurkan serangan yang menargetkan aset-aset vital AS di kawasan, termasuk infrastruktur kabel bawah laut dan fasilitas kecerdasan buatan (AI).

“Kita tidak akan kembali ke diplomasi masa lalu. Jika perang berlanjut, kemampuan kami akan semakin kuat,” gertak Rezaei mengacu pada perlawanan Iran, meski ia tak menampik blokade berkepanjangan ini turut memukul ekonomi domestik mereka.

BACA JUGA  Qatar: Kami Tak Pernah dan Tak Akan Serang Iran

Konflik berdarah yang pecah sejak 28 Februari lalu ini telah menghancurkan nota kesepahaman (MoU) damai yang sempat dirajut pada Juni. Blokade militer AS dan gempuran proksi yang terus meluas memaksa Iran mengambil langkah ekstrem. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan tujuh tuntutan ini sudah berada di meja Washington.

Kini, bola panas berada di tangan Amerika Serikat. Berikut adalah 7 syarat harga mati yang dijatuhkan Iran:

Pencabutan seluruh sanksi yang dijatuhkan AS pasca-kegagalan MoU Islamabad pada Juli lalu.

Pemangkasan drastis kehadiran armada militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pengaktifan kembali pengecualian impor minyak untuk Iran sebagai bagian dari kesepakatan Juni.

Pembebasan total dana triliunan milik Iran yang dibekukan secara sepihak, termasuk aset yang ditahan di Qatar.

BACA JUGA  Saudi Tuding Iran Dalang Memanasnya Perang Yaman

Pengakuan resmi atas rute pelayaran baru di Selat Hormuz yang dirancang oleh Iran dan Oman, serta penutupan seluruh rute alternatif lainnya.

Penghentian agresi militer di seluruh front secara instan, terutama serangan brutal Israel terhadap Lebanon.

Penghentian total blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan larangan keras bagi AS untuk mencampuri urusan dalam negeri Teheran.

    Dunia kini menanti respons Washington. Mengabulkan tuntutan ini berarti kekalahan telak bagi hegemoni AS di Timur Tengah, namun menolaknya sama dengan membiarkan krisis pasokan minyak global meledak di depan mata. (Mun)

    TRENDING