Connect with us

EKBIS

Nilai Tukar Rupiah Menguat terhadap Dolar AS pada Pembukaan Perdagangan Kamis

Aktualitas.id -

Ilustrasi uang Rupiah, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.800 per dolar AS, atau menguat 0,33 persen.

Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup menguat 0,03 persen ke posisi Rp16.855 per dolar AS, yang menjadi penguatan harian pertama rupiah sepanjang 2026.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,04 persen ke level 99,093. Pada perdagangan sebelumnya, DXY tercatat stagnan di posisi 99,134.

Penguatan rupiah hari ini tak lepas dari tekanan terhadap dolar AS di pasar global. Pelemahan greenback berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Sentimen tersebut mencuat setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan pernyataan terkait ancaman tuntutan pidana dari Departemen Kehakiman AS atas kesaksiannya pada Juni lalu mengenai renovasi kantor pusat The Fed. Powell menilai langkah itu berkaitan dengan perbedaan sikap The Fed dengan Presiden AS Donald Trump, yang mendorong pemangkasan suku bunga secara lebih agresif.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, meskipun tekanan global masih membayangi pasar keuangan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, mengatakan pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk rupiah, masih dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik, kekhawatiran atas independensi bank sentral di negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik.

Meski demikian, Erwin menegaskan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara berkesinambungan.

Upaya tersebut meliputi intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, arus masuk modal asing yang berlanjut, khususnya ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, serta ketahanan cadangan devisa yang memadai, dinilai menjadi faktor penting dalam menopang stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global. (Firmansyah/Mun)

TRENDING