EKBIS
Zona Merah di Awal Pekan! Rupiah Tersungkur Gegara Utang AS
AKTUALITAS.ID – Rupiah memulai perdagangan di pasar spot pada awal pekan ini, Senin (19/5/2025), dengan sentimen negatif yang cukup kuat. Mata uang Garuda dibuka melemah signifikan, tertekan oleh kekhawatiran pasar global pasca penurunan peringkat utang Amerika Serikat oleh lembaga pemeringkat Moody’s Ratings.
Data pembukaan pasar menunjukkan rupiah spot melemah 0,2% ke level Rp16.473 per dolar AS. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja ketiga terburuk di Asia pada pagi ini, setelah ringgit Malaysia yang melemah 0,4% dan peso Filipina yang tergerus nilainya sebesar 0,27%.
Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya juga ikut tertekan:
Yuan offshore: -0,03%
Yuan renminbi: -0,01%
Dolar Hong Kong: -0,07%
Namun, yen Jepang justru menguat 0,39%, disusul won Korea (0,25%), dolar Singapura (0,14%), dan baht Thailand (0,02%).
📉 Pasar Saham Ikut Terimbas
Tekanan global juga menahan laju IHSG, yang sempat dibuka menguat tipis 0,1%, namun langsung berbalik melemah 0,22% ke level 7.090. Ini terjadi setelah mencetak kenaikan signifikan sebesar 4,01% sepanjang pekan lalu.
💹 Pasar Obligasi Mulai Tunjukkan Sinyal Dovish BI
Meski rupiah melemah, pasar surat utang domestik menunjukkan optimisme investor dengan yield mayoritas tenor jangka menengah dan panjang mengalami penurunan:
SUN 10Y: Turun 0,7 bps ke 6,873%
SUN 6Y: Turun 4,3 bps ke 6,733%
SUN 2Y: Naik 2,6 bps ke 6,263%
Penurunan imbal hasil ini menandakan ekspektasi pelonggaran moneter semakin menguat, menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan berlangsung Selasa – Rabu (20 – 21 Mei). Konsensus pasar memperkirakan BI Rate akan dipangkas 25 bps menyusul tanda-tanda perlambatan ekonomi.
📊 Teknikal Rupiah: Arah Masih Negatif
Secara teknikal, rupiah berpotensi lanjut melemah:
Support kuat: Rp16.480 – Rp16.500/US\$
Break support: Berpotensi menuju Rp16.610/US\$
Potensi rebound: Jika menguat, resistance berada di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.300/US\$
Kondisi global yang belum stabil, terutama terkait downgrade peringkat utang AS, membuat pasar mata uang dan saham regional goyah. Rupiah masih dibayangi tekanan eksternal, namun pasar obligasi memberi sinyal harapan bahwa Bank Indonesia siap memberikan stimulus tambahan. Seluruh mata tertuju ke RDG BI dan rilis data ekonomi pekan ini. (Yan Kusuma/Mun)
-
DUNIA19/10/2026 15:00 WIBDemo Mahasiswa dan Kenaikan Biaya Hidup Picu Kekacauan di Belgia
-
NUSANTARA19/10/2026 08:30 WIBKemenkes Catat 2.609 Kasus ISPA pada 17 Oktober 2026
-
DUNIA19/10/2026 12:00 WIBHakim Timothy J. Kelly Perintahkan Pemerintah Trump Pertahankan Akses Pers
-
NASIONAL19/10/2026 11:00 WIBPDI Perjuna Desak Moratorium Hutan untuk Mencegah Karhutla
-
POLITIK19/10/2026 11:00 WIBDoli Ungkap Kejanggalan Dokumen PKPU yang Kini Jadi Polemik
-
NUSANTARA19/10/2026 11:00 WIBBMKG Ingat Puncak Musim Hujan Bisa Datang Lebih Ekstrem
-
NUSANTARA19/10/2026 09:00 WIBHotspot Kalteng Melonjak dari 19 ke 92 Titik
-
NUSANTARA19/10/2026 12:30 WIBBocah Berkebutuhan Khusus Disiksa Sampai Mati di Teras Rumah Sendiri

















