RAGAM
Serangan Jantung Dapat Melepaskan Racun yang Merusak Otak
AKTUALITAS.ID – Serangan jantung membuat tubuh berada dalam kondisi stres berat, mulai dari berkurangnya oksigen, meningkatnya peradangan, hingga perubahan metabolisme tubuh.
Penelitian terbaru mengungkap serangan jantung dapat memicu pelepasan zat beracun dalam tubuh yang berpotensi merusak fungsi otak dan meningkatkan risiko gangguan mental hingga penurunan kognitif.
Studi yang dipimpin peneliti dari University of Ottawa itu menemukan molekul bernama methylglyoxal (MG) meningkat drastis dalam aliran darah setelah serangan jantung dan kemudian menumpuk di otak.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience “Advanced Science”, melansir dari laman Neuroscience News pada Jumat kemarin.
Kondisi itu memicu lonjakan methylglyoxal yang kemudian masuk ke area otak yang berkaitan dengan emosi dan fungsi kognitif.
Penulis senior penelitian Dr. Erik Suuronen mengatakan sebelumnya methylglyoxal lebih banyak diteliti dalam kaitannya dengan penyakit metabolik seperti diabetes.
Namun, tim peneliti menemukan jaringan jantung yang rusak akibat serangan jantung juga menghasilkan molekul tersebut dalam jumlah tinggi.
“Kami memprediksi methylglyoxal dalam darah akan menargetkan organ lain termasuk otak, dan itu yang kami temukan,” kata Suuronen.
Penelitian tersebut juga menyoroti tingginya kasus depresi dan kecemasan pada pasien serangan jantung.
Menurut peneliti, penderita serangan jantung memiliki risiko depresi dan kecemasan hingga tiga kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
Bahkan pasien yang mengalami depresi atau kecemasan setelah serangan jantung disebut memiliki kemungkinan hingga 2,7 kali lebih besar mengalami serangan jantung kedua atau kematian.
Peneliti menilai temuan ini memperkuat konsep “heart-brain axis” atau hubungan dua arah antara jantung dan otak.
Peradangan dan kerusakan sel otak akibat methylglyoxal juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer’s disease dan demensia.
Tim peneliti kini tengah mengembangkan terapi berbasis peptida yang dirancang untuk “menangkap” methylglyoxal sebelum merusak sel otak.
Terapi tersebut bekerja seperti spons molekuler yang mengikat zat beracun agar tidak masuk ke sistem saraf pusat.
Suuronen mengatakan terapi itu akan segera diuji untuk melihat apakah mampu melindungi otak pasien setelah serangan jantung.
Jika berhasil, terapi tersebut dinilai berpotensi membantu menurunkan risiko gangguan mental sekaligus mengurangi kemungkinan serangan jantung berulang.
(Yan Kusuma/goeh)
-
OASE14/10/2026 05:00 WIBInilah Doa Nabi Muhammad SAW agar Hujan Membawa Manfaat
-
JABODETABEK14/10/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Cuaca Cerah di Seluruh Jakarta
-
POLITIK14/10/2026 07:00 WIBGerindra: Prabowo Tak Dipilih untuk Menyenangkan Pengamat
-
NASIONAL14/10/2026 08:00 WIBKemenbud Mulai Pemugaran Yasti Borobudur, Pertama Sejak 1911
-
EKBIS14/10/2026 09:30 WIBIHSG Menghijau, Lalu Memerah
-
NASIONAL14/10/2026 14:00 WIBSiap Tumpas Musuh Presisi Tinggi, KSAL Bentuk Batalyon Sniper
-
EKBIS14/10/2026 13:30 WIBBukan Cuma Penumpang, Komdigi Siapkan Aturan Khusus Kurir Ojol Tahun Ini
-
NASIONAL14/10/2026 06:00 WIBBPK Sentil Pemerintah soal Dana Pensiun ASN dan TNI-Polri

















