Connect with us

NUSANTARA

Anak Krakatau Siaga, Seberapa Besar Ancamannya?

Aktualitas.id -

Gunung anak krakatau, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik setelah mengalami erupsi pada Rabu (8/7/2026) pukul 07.11 WIB. Meski statusnya masih berada pada Level III (Siaga), peningkatan aktivitas gunung api di Selat Sunda itu kembali membangkitkan perhatian terhadap sejarah letusan besar Krakatau yang pernah mengguncang dunia pada 1883.

Erupsi kali ini belum dapat disamakan dengan bencana dahsyat yang terjadi lebih dari satu abad lalu. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kawasan Krakatau merupakan salah satu sistem vulkanik paling aktif di Indonesia sehingga setiap peningkatan aktivitas selalu dipantau secara ketat oleh otoritas.

Letusan Gunung Krakatau pada 25–27 Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah modern. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), letusan tersebut memuntahkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar, menghancurkan wilayah di sekitar Selat Sunda, serta menimbulkan dampak yang tercatat hingga berbagai negara.

BACA JUGA  Akibat Tebang Pohon Sembarangan Picu Longsor Cihanjuang

Selama tiga hari berturut-turut, abu vulkanik, batu apung, dan material panas menyelimuti kawasan di sekitar Selat Sunda. Wilayah pesisir Lampung dan Banten mengalami kerusakan sangat parah, sementara gelombang laut yang dipicu runtuhnya sebagian tubuh Gunung Krakatau menghantam garis pantai.

Korban jiwa diperkirakan mencapai lebih dari 36.000 orang, sebagian besar akibat gelombang besar yang menyapu kawasan pesisir setelah letusan.

Catatan sejarah juga menunjukkan dahsyatnya kekuatan letusan tersebut. Kapal uap Berauw dilaporkan terlempar hingga beberapa kilometer dari lokasi semula, sementara sejumlah pelabuhan lumpuh akibat terjangan gelombang, hujan abu, dan material vulkanik.

Aktivitas perdagangan dan pelayaran di Selat Sunda praktis terhenti. Banyak kapal tidak mampu melanjutkan perjalanan karena jalur laut dipenuhi batu apung, abu vulkanik, gelombang tinggi, dan kondisi cuaca ekstrem akibat erupsi.

BACA JUGA  Merapi Alami Penurunan Aktivitas, BNPB Izinkan Warga Kembali ke Rumah

Di daratan, sejumlah kawasan pesisir di Lampung dan Banten mengalami kerusakan berat. Jalur komunikasi terputus, permukiman hancur, dan proses penyaluran bantuan berlangsung sangat sulit karena luasnya wilayah terdampak.

Meski demikian, kondisi saat ini belum menunjukkan adanya letusan sebesar peristiwa 1883. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga) dan terus memantau perkembangan aktivitasnya.

Masyarakat diimbau tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif serta mengikuti seluruh informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi. Hingga saat ini, belum ada peringatan mengenai potensi letusan besar seperti yang terjadi pada 1883.

Para ahli menegaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakter erupsi yang berbeda. Karena itu, sejarah letusan Krakatau penting dijadikan pelajaran untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa bencana serupa akan kembali terjadi dalam waktu dekat. (Kusuma/Mun)

TRENDING