Connect with us

RAGAM

Tanaman Nyamplung Punya Kandungan Minyak Hingga 70 Persen

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Selama ini tanaman nyamplung hanya dikenal tumbuh liar di kawasan pesisir Indonesia. Namun siapa sangka, pohon yang kerap dianggap biasa itu justru menyimpan potensi besar sebagai sumber energi masa depan yang mampu menghasilkan biodiesel, biokerosin, hingga bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

Temuan tersebut diungkap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) mengandung minyak hingga 60-70 persen, menjadikannya salah satu kandidat paling menjanjikan untuk pengembangan biofuel nasional.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, mengatakan kandungan minyak yang sangat tinggi membuat nyamplung berpotensi diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar rendah emisi.

BACA JUGA  BRIN Ungkap Potensi Gempa 7 Magnitudo di Bandung

“Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF),” ujarnya, Minggu (12/7/2026).

Keunggulan lain tanaman ini adalah tidak bersaing dengan kebutuhan pangan karena mampu tumbuh subur di lahan kritis, tandus, maupun kawasan pesisir yang selama ini kurang produktif.

Artinya, pengembangan nyamplung tidak hanya berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang rehabilitasi jutaan hektare lahan terdegradasi yang selama ini terbengkalai.

BRIN menilai nyamplung dapat menjadi bagian penting dalam strategi menuju Net Zero Emission karena memiliki kemampuan menyerap karbon sekaligus menghasilkan energi terbarukan.

Tak hanya menghasilkan minyak, hampir seluruh bagian hasil pengolahan nyamplung juga dapat dimanfaatkan.

BACA JUGA  Sinkhole Mengancam: BRIN Identifikasi Wilayah Rawan di Indonesia

Residu padat berupa tempurung dan ampas biji dapat diolah menjadi pellet energi, biochar, arang aktif hingga pakan ternak berprotein tinggi. Sementara limbah cair hasil produksi biodiesel seperti gliserol dan resin masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku sabun maupun produk biofarmaka.

Pendekatan tersebut membuat pengembangan nyamplung sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mampu meminimalkan limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah setiap proses produksi.

Selain manfaat lingkungan, budidaya nyamplung juga diperkirakan mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Mulai dari penanaman, pengumpulan buah, pengolahan biji hingga industri bioenergi dinilai berpotensi membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat rantai pasok energi domestik.

Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap energi rendah emisi, khususnya untuk sektor penerbangan yang mulai beralih ke Sustainable Aviation Fuel (SAF), Indonesia dinilai memiliki peluang besar memanfaatkan kekayaan hayati lokal sebagai sumber energi strategis masa depan.

BACA JUGA  BRIN Ungkap Risiko Besar Jika E-Voting Dipaksakan

Jika dikembangkan secara serius, nyamplung bukan sekadar tanaman liar di pesisir, melainkan bisa menjadi salah satu aset penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. (Irawan/Mun)

TRENDING