Connect with us

NUSANTARA

BMKG Ungkap Daerah Paling Parah Dilanda Kekeringan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi menetapkan tujuh wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam status awas kekeringan meteorologis. Kemarau panjang yang diperkuat fenomena El Nino membuat sejumlah daerah nyaris tanpa hujan selama lebih dari dua bulan, sehingga meningkatkan ancaman krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan penguatan El Nino dengan indeks +2,26 derajat Celsius menjadi faktor utama yang memperpanjang periode tanpa hujan di berbagai wilayah.

Akibat kondisi tersebut, 17 kecamatan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota kini berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.

Tujuh daerah yang telah berstatus awas meliputi:

BACA JUGA  Danrem 162/WB Berharap Satgas Gulbencal TNI AD Segara Pulihkan Transportasi Yang Rusak Akibat Banjir Bandang di NTB

Kabupaten Lombok Timur
Kabupaten Lombok Utara
Kabupaten Sumbawa Barat
Kabupaten Sumbawa
Kabupaten Dompu
Kabupaten Bima
Kota Bima

Menurut BMKG, kondisi paling ekstrem terjadi di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima yang tercatat mengalami 74 hari berturut-turut tanpa hujan, masuk dalam kategori kekeringan ekstrem.

BMKG memperkirakan kondisi tersebut belum akan segera berakhir. Peluang hujan pada dasarian pertama Agustus 2026 (1–10 Agustus) diprediksi kurang dari 10 persen di hampir seluruh wilayah NTB.

Selain El Nino, BMKG juga memantau perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini masih berada pada fase netral. Namun, fenomena tersebut diproyeksikan beralih ke fase positif mulai September hingga Desember 2026, yang berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

BACA JUGA  BMKG: Selatan Indonesia Banyak Terjadi Kekeringan

Pada akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah NTB hanya mencatat curah hujan 0–10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, dengan sekitar 19 milimeter per dasarian, namun angka tersebut masih tergolong rendah.

Melihat kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan, lahan, dan permukiman yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan di tengah kondisi vegetasi yang sangat kering.

Selain ancaman kebakaran, BMKG meminta masyarakat menggunakan air secara hemat dan bijaksana guna mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih apabila musim kemarau berkepanjangan terus berlanjut. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap masyarakat dan sektor pertanian.(Kusuma/Mun)

BACA JUGA  Demi Cetak Atlet Berprestasi, Lombok Utara Minta Dukungan Sekolah Olahraga dari Pusat

TRENDING