OASE
7 Nama Rahasia Cahaya Muhammad di Tujuh Lapis Langit Ketuhanan
AKTUALITAS.ID – Jauh sebelum langit, bumi, surga, neraka, hingga malaikat dan Nabi Adam diciptakan, ruang semesta disebut-sebut tak sepenuhnya kosong. Ada satu entitas yang lebih dulu hadir bersemayam dan bertasbih di hadapan Sang Pencipta: *Nur Muhammad*. Benarkah demikian?
Konsep Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad selalu memantik diskursus tajam di kalangan umat Islam. Di satu sisi, konsep ini menjadi puncak spiritualitas dalam tradisi tasawuf dan ilmu makrifat. Di sisi lain, wacananya kerap dibenturkan dengan pandangan tekstualis ahli hadis yang menuntut dalil harfiah.
Secara tekstual, frasa “Nur Muhammad” memang tidak tertulis eksplisit di dalam Al-Qur’an. Namun, hal ini tidak berarti Al-Qur’an bisu soal cahaya Sang Nabi. Sejumlah ulama tafsir merujuk pada Surat Al-Ma’idah ayat 15:
“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang jelas.”
Kata “cahaya” (nur) dalam ayat tersebut, serta Surat An-Nur ayat 35 dan Al-Ahzab ayat 46, diyakini kuat oleh para sufi—seperti Sahl al-Tustari—sebagai representasi langsung dari Nur Muhammad. Cahaya ini bukan sekadar metafora, melainkan petunjuk Ilahi yang menyinari semesta.
Perdebatan Dua Kutub: Spiritual vs Tekstual
Persimpangan tajam terjadi antara tradisi tasawuf dan pandangan Salaf atau ahli hadis.
Bagi kalangan Salaf, Nabi Muhammad SAW secara biologis adalah manusia biasa yang diciptakan dari unsur tanah (melalui garis keturunan Nabi Adam AS). Mereka memposisikan kata nur dalam Al-Qur’an semata-mata sebagai sifat maknawi, yakni cahaya hidayah, risalah, atau petunjuk, bukan zat fisik cahaya bernama “Nur Muhammad” yang mendahului alam semesta.
Sebaliknya, dalam sufisme, Nur Muhammad adalah makhluk pertama. Cahaya ini diciptakan langsung dari cahaya Allah SWT sebelum adanya Lauh Mahfuz dan Qalam. Beribu-ribu tahun lamanya, Nur ini beredar menembus berbagai hijab kosmis, bertasbih memuji Tuhannya, sebelum akhirnya dipindahkan secara estafet ke tulang sulbi dan rahim leluhur suci hingga lahir secara fisik di Makkah.
7 Tahapan Rahasia di Langit Tuhan
Menariknya, kearifan lokal dalam tradisi makrifat Nusantara membedah perjalanan Nur Muhammad secara lebih spesifik. Cahaya agung ini diyakini tidak langsung bernama “Muhammad”, melainkan harus melewati tujuh fase di tiap lapisan langit ketuhanan:
Langit ke-1 (Arasy) – Nur Qasam: Cahaya murni tak berwujud yang bersanding langsung dengan Nur Allah.
Langit ke-2 – Nur Kalam: Representasi dari energi penciptaan, wujud kalimat Ilahi “Kun Fayakun”.
Langit ke-3 – Nur Jamal: Wujud keindahan (Jamal) Allah yang tak henti berzikir dan memuji-Nya.
Langit ke-4 – Nur Jalal: Manifestasi keperkasaan dan kehendak mutlak Tuhan (Jalal).
Langit ke-5 – Nur Baya Putih: Menjadi sumber dasar penciptaan cahaya para malaikat dan unsur-unsur alam semesta.
Langit ke-6 – Nur Muhammad: Cahaya yang mulai disiapkan dan dimasukkan ke dalam ruang jiwa batin Nabi Adam AS.
Langit ke-7 (Bumi) – Turun ke Jasad: Menyatu ke dalam raga Nabi Adam AS sebagai khalifah pertama di muka bumi.
Entah dimaknai sebagai substansi kosmis pertama yang mengawali penciptaan, atau dimaknai sebatas metafora hidayah yang menerangi kegelapan jahiliah, Nur Muhammad tetap menjadi bukti tak terbantahkan betapa sentralnya posisi Rasulullah SAW dalam desain besar penciptaan alam semesta. (Mun)
-
RIAU26/09/2026 19:30 WIBPedang Pora Iringi Kepergian Brigjen Hengki Haryadi
-
POLITIK26/09/2026 11:00 WIBSurvei Nyungsep! NasDem dan PAN Tertawakan Data Poltracking
-
RAGAM26/09/2026 14:00 WIBJangan Lewatkan! Bulan Purnama Harvest Moon Malam Ini
-
POLITIK26/09/2026 10:00 WIBPDIP Tak Gentar Meski Tertinggal Jauh dari Gerindra
-
DUNIA26/09/2026 21:00 WIBPelabuhan Minyak Saudi Diserang Houthi, Prancis Langsung Kirim Pasukan Elit
-
DUNIA26/09/2026 12:00 WIBKorut: Status Nuklir Kami Tak Akan Berubah
-
NUSANTARA26/09/2026 22:00 WIBTanggul Jebol! Banjir Setinggi Pinggang Hantam Aceh Tenggara
-
NASIONAL26/09/2026 13:00 WIBSenin DPR Bongkar Misteri Klaster Mewah Cibinong

















