Connect with us

JABODETABEK

Geger Bekasi! Makam Dibongkar Gara-Gara Beda Pilihan Kades

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Sebuah peristiwa tak biasa menghebohkan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sebuah makam yang telah berusia sekitar 20 tahun dibongkar dan jenazah di dalamnya dipindahkan setelah terjadi konflik sosial yang dipicu perbedaan pilihan dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Peristiwa yang terjadi di Kampung Cap Jaya RT 07 RW 03, Desa Lenggah Jaya, Kecamatan Cabangbungin itu viral setelah rekaman video pembongkaran makam beredar luas di media sosial.

Dalam video yang beredar, tampak sejumlah warga melakukan penggalian makam. Narasi yang berkembang menyebut pembongkaran tersebut berkaitan dengan perselisihan pasca-Pilkades antara dua warga yang mendukung calon kepala desa berbeda.

Kapolsek Cabangbungin AKP Alex Candra membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut pembongkaran makam dilakukan pada Minggu (25/10/2026) dan telah melalui proses mediasi yang melibatkan berbagai pihak.

BACA JUGA  Mark Up Listrik hingga SPP, Kepala SD di Bekasi Kuras Dana BOS Ratusan Juta

“Benar, itu kejadiannya Minggu, 25 Oktober 2026,” kata Alex.

Menurut Alex, pemindahan makam dilakukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak setelah konflik yang sempat terjadi berhasil diselesaikan secara damai.

“Jadi, kesepakatan bongkar makam itu memang sebelumnya ada permasalahan, kemudian sudah berdamai, dan jenazah dipindahkan ke makam keluarganya,” ujarnya.

Polemik bermula dari ketegangan antara dua warga yang berbeda pilihan dalam Pilkades. Salah satu pihak merupakan pendukung calon kepala desa yang menang, sementara pihak lainnya mendukung calon yang kalah.

Perselisihan dipicu oleh ucapan yang dianggap menyinggung calon yang didukung salah satu pihak.

“Awalnya itu karena dengar suara-suara terkait pilkades juga, ‘Nggak punya uang kok si C nyalon-nyalon’, punya ketersinggungan di situ,” jelas Alex.

BACA JUGA  Ngeri! Kebocoran Gas Picu Ledakan Hebat di SPBE Bekasi

Ketegangan kemudian berkembang menjadi konflik sosial. Pemilik lahan yang digunakan sebagai lokasi makam merasa tersinggung dan meminta keluarga pihak lain memindahkan makam yang berada di atas tanah miliknya.

Menurut polisi, lokasi makam tersebut memang berdiri di atas lahan pribadi milik salah satu pihak yang terlibat dalam perselisihan.

“Karena ketersinggungan, akhirnya ditengahi dan diselesaikan. Akhirnya pendukung yang menang ini mindahin makamnya. Jadi itu tanah makam pribadi dari pihak yang kalah,” terang Alex.

Setelah dilakukan mediasi oleh perangkat desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta pihak terkait lainnya, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan damai.

Proses pembongkaran dan pemindahan jenazah pun dilaksanakan dengan pengawasan aparat dan berlangsung tanpa gangguan keamanan.

BACA JUGA  Dinkes Bekasi Dilaporkan ke KPK Terkait Pengadaan Ambulans dan Mobil Jenazah

Peristiwa ini menjadi sorotan publik karena memperlihatkan bagaimana konflik politik di tingkat desa dapat berdampak hingga ke persoalan sosial dan hubungan antarwarga. Meski telah berakhir damai, kasus tersebut menimbulkan keprihatinan mengenai pentingnya menjaga persatuan masyarakat setelah kontestasi politik usai.

Kisruh yang bermula dari perbedaan dukungan Pilkades itu akhirnya berujung pada pemindahan makam yang telah berusia puluhan tahun, sebuah peristiwa yang jarang terjadi dan mengundang perhatian luas masyarakat. (Kusuma/Mun)

TRENDING