NUSANTARA
Polisi: Tersangka Belajar Pembunuhan dari AI
AKTUALITAS.ID – Penyidikan kasus dugaan pembunuhan terhadap Dini Hardiyanti (30) dan anaknya di Madiun mengungkap fakta baru yang mengejutkan. Polisi menduga tersangka, Dwi Bagus Martono, telah mempersiapkan tindakannya jauh hari sebelum kejadian dan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun skenario alibi apabila diperiksa aparat penegak hukum.
Temuan tersebut muncul setelah penyidik melakukan forensik digital terhadap perangkat komunikasi milik tersangka serta mendalami hasil prarekonstruksi perkara.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur AKBP Arbaridi Jumhur mengatakan tersangka mengakui telah memikirkan rencananya sekitar satu pekan sebelum peristiwa terjadi.
“Ada pengakuan terbaru dari tersangka, bahwa ia memang sudah merencanakan sejak satu minggu sebelumnya. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat,” ujar Jumhur, Kamis (5/11/2026).
Dari hasil penelusuran digital, penyidik menemukan berbagai aktivitas pencarian yang diduga berkaitan dengan perencanaan kejahatan tersebut. Polisi menyebut tersangka aktif mencari informasi mengenai cara melumpuhkan korban.
Menurut penyidik, jejak digital memperlihatkan tersangka mempelajari berbagai informasi yang berkaitan dengan tindakan kekerasan terhadap korban.
Tak hanya itu, polisi juga menemukan pencarian terkait sejumlah peralatan yang kemudian diduga dipilih dan digunakan sebagai bagian dari rangkaian persiapan. Salah satu peralatan yang ditemukan bahkan telah diamankan sebagai barang bukti dalam penyidikan.
Temuan lain yang menjadi sorotan adalah dugaan pemanfaatan layanan kecerdasan buatan untuk menyusun kemungkinan jawaban jika suatu saat diperiksa aparat penegak hukum.
Penyidik menyebut tersangka diduga mempelajari berbagai kemungkinan pertanyaan dan mencoba menyiapkan narasi yang akan disampaikan saat pemeriksaan. Polisi menilai hal itu menunjukkan adanya upaya persiapan yang dilakukan sebelum peristiwa terjadi.
Selain menyusun alibi, penyidik mengungkap tersangka juga sempat mempertimbangkan berbagai cara untuk menghilangkan jejak kejahatan. Polisi menemukan adanya pembelian drum dan bahan tertentu yang dilakukan beberapa hari sebelum kejadian.
Namun, penyidik menyatakan seluruh temuan tersebut masih menjadi bagian dari pendalaman lebih lanjut guna melengkapi berkas perkara dan menguatkan rangkaian alat bukti.
Di sisi lain, polisi menduga persoalan rumah tangga dan tekanan ekonomi menjadi latar belakang utama yang memicu konflik antara tersangka dan korban. Ketegangan disebut meningkat setelah keluarga tersebut berpindah tempat tinggal dari Samarinda ke Madiun.
Meski motif awal telah mulai terungkap, penyidik masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa, termasuk sejauh mana tingkat perencanaan yang dilakukan tersangka sebelum kejadian.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena mengungkap bagaimana jejak digital dapat menjadi salah satu pintu utama bagi penyidik untuk menelusuri dugaan perencanaan tindak pidana. Polisi menegaskan proses penyidikan masih terus berjalan untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara utuh di hadapan hukum. (Bowo/Mun)
-
EKBIS04/11/2026 10:30 WIBRupiah Perkasa Lawan Dolar AS Jelang Pemilu Amerika
-
POLITIK04/11/2026 11:00 WIBHabiburokhman Pastikan Isu Gibran Dibedah dalam Rapat Fraksi
-
POLITIK04/11/2026 11:30 WIBTiga Tersangka Belum Cukup, SDI Tagih Siapa Pemesan Penyadapan
-
NASIONAL04/11/2026 13:00 WIBGerak Cepat TNI, Ribuan Prajurit Merapat ke Ibu Kota?
-
DUNIA04/11/2026 12:00 WIBDi Tengah Negosiasi, Iran Klaim Hancurkan Drone A
-
POLITIK04/11/2026 12:30 WIBSenator ProDem: Siapa Bandar Gelap di Balik Sadap Prabowo?
-
POLITIK04/11/2026 14:30 WIBMenko Yusril: Belum Ada Pembahasan Pengganti Listyo Sigit
-
POLITIK04/11/2026 20:00 WIBGerindra Desak Dalang Penyadap Presiden Dibongkar
















