Berita
Deklator Brikade 98 Sebut Isu HRS Bisa Kaburkan Implementasi PEN
AKTUALITAS.ID – Aznil Tan menilai fenomena kepulangan HRS bikin rusak penanganan Covid-19 dan menganggu Pemulihan Ekonomi Nasional masa pandemi Covid-19. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 9,1% akibat pandemi Covid-19 yang mesti menjadi perhatian khusus segenap komponen bangsa Indonesia. “Pemujaan HRS berlebihan dari pendukungnya menunjukkan bahwa masih ada fanatisme mengalahkan rasionalitas. Seharusnya energi bangsa ini kita gunakan, […]
AKTUALITAS.ID – Aznil Tan menilai fenomena kepulangan HRS bikin rusak penanganan Covid-19 dan menganggu Pemulihan Ekonomi Nasional masa pandemi Covid-19. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 9,1% akibat pandemi Covid-19 yang mesti menjadi perhatian khusus segenap komponen bangsa Indonesia.
“Pemujaan HRS berlebihan dari pendukungnya menunjukkan bahwa masih ada fanatisme mengalahkan rasionalitas. Seharusnya energi bangsa ini kita gunakan, bagaimana kita bersama memulihkan ekonomi nasional” keterangan tertulis Aznil Tan komponen Aktivis 98 ini diterima redaksi (13/11/2020).
Rekonsiliasi pemerintah dengan HRS bukan agenda nasional yang perlu ditanggapi. Aznil mendorong segenap komponen bangsa untuk all out menyatukan energi mengawal implementasi PEN yang menggunakan anggaran negara sebesar Rp695,2 triliun dalam upaya penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional pada massa pandemi serta pasca pandemi.
Aznil salah seorang deklarator Barikade 98 menegaskan bahwa persoalan hukum tetap diselesaikan secara hukum bukan dijadikan alat untuk ditransaksikan. Isu HRS ini bisa mengaburkan implementasi PEN yang saat sekarang lebih dibutuhkan rakyat dibandingkan HRS.
“Saya menyarankan pemerintah untuk mencuekin saja atas isu rekonsiliasi mereka mainkan. Jangan sampai kegaduhan ini dimanfaatkan oleh pejabat nilap anggaran PEN. Persoalan hukum HRS diselesaikan secara hukum bukan cara rekonsiliasi,” jelasnya.
Aznil Tan menilai bahwa kelompok fanatisme sektarian ini sengaja dipelihara oleh tokoh-tokoh hitam sebagai modal politik mereka dan alat barganing potition. HRS sengaja diframing sosok sektarian yang dizholimi untuk mendapatkan suara pada event politik.
“Saya harus akui bahwa ada tokoh-tokoh hitam berhasil menghimpun massa sektarian. Mereka berhasil memframing HRS sebagai tokohnya. Tapi mereka itu cuma 0,1% dari jumlah penduduk Indonesia. Mereka cuma menguasai jalanan bukan menguasai perpolitikan”, pungkas Aznil Tan.
-
NASIONAL31/07/2026 09:00 WIBEddy Soeparno Dorong Ketahanan Energi Nasional
-
POLITIK31/07/2026 10:00 WIBPegiat Pemilu: DKPP Naik Kelas Demi Jaga Integritas Pemilu
-
JABODETABEK31/07/2026 08:30 WIBPengendara Vario Tewas Usai Tabrakan Adu Banteng
-
DUNIA31/07/2026 09:30 WIBIHSG Dibuka Hijau Investor Mulai Borong
-
JABODETABEK31/07/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Suhu Jakarta Tembus 34 Derajat
-
POLITIK31/07/2026 06:00 WIBPengamat Minta Publik Tak Terlalu Reaktif Survei Dedi Salip Prabowo
-
DUNIA30/07/2026 17:00 WIBIran Hujani Markas Komando AS di Yordania dengan Rudal
-
NASIONAL31/07/2026 11:00 WIBKemenhan Bantah Isu Peserta Diklat Digaji Rp 10 Juta

















