Ahok Bilang Merem Saja Pertamina Untung, PKS: Kok Sekarang Rugi?


Jakarta Governor Basuki Tjahaja Purnama, popularly known as "Ahok", center, sits on the defendant's chair at the start of his trial hearing at North Jakarta District Court in Jakarta, Indonesia, Tuesday, Dec. 13, 2016. Ahok is on trial on accusation of blasphemy following his remark about a passage in the Quran that could be interpreted as prohibiting Muslims from accepting non-Muslims as leaders. (AP Photo/Tatan Syuflana, Pool)

AKTUALITAS.ID – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, pertanyakan kinerja Komisaris Utama PT. Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selama bergabung di perusahaan minyak negara itu.

Menurut Mulyanto, selama Ahok menjabat sebagai komisaris utama, Pertamina, nyaris tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan. Justru sebaliknya, banyak keanehan dan kejanggalan yang begitu jelas dilihat masyarakat.

“Pekan lalu kita dengar kabar Pertamina tidak masuk daftar Fortune Global 500. Sekarang yang terbaru Pertamina rugi Rp 11,13 triliun di semester pertama tahun 2020,” kata Mulyanto, Selasa (25/8/2020).

Kondisi ini jelas harus jadi perhatian Pemerintah, kata dia, jangan terus dibiarkan dan menunggu Pertamina mengalami kondisi yang lebih parah.

“Mau sampai kapan membiarkan Pertamina babak belur seperti ini?” tanya Mulyanto.

Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Industri dan Pembangunan ini mempertanyakan kerja Ahok selama bergabung di Pertamina. Sebagai komisaris utama Pertamina, Ahok harusnya mampu melakukan pengawasan agar perusahaan yang dipimpinnya lebih baik.

Dengan kewenangan yang dimiliki dan dukungan politik memadai, lanjut dia, sebenarnya Ahok punya kesempatan lebih besar membenahi Pertamina. Apalagi menjelang pengangkatan dirinya menjadi komisaris utama, mantan Gubernur DKI itu sesumbar bisa memperbaiki Pertamina.

“Waktu itu Ahok bilang, merem saja Pertamina sudah untung. Asal diawasi. Nah kalau sekarang Pertamina rugi, artinya apa? Apa Ahok tidak mengawasi. Kok nyatanya Pertamina bisa rugi,” kritik Mulyanto.

Secara teori, kata Mulyanto, di semester pertama tahun 2020 ini Pertamina harusnya untung. Bukan rugi seperti sekarang.

Sebab di saat harga minyak dunia anjlok ke angka yang paling rendah sepanjang sejarah, Pertamina tidak menurunkan harga BBM sedikitpun. Termasuk harga BBM non-subsidi yang harganya mengikuti harga minyak dunia.

“Secara perhitungan kasar, Pertamina harusnya untung besar,” ujar Mantan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian era Presiden SBY ini.

Karena itu, Mulyanto heran jika dalam laporan semester pertama tahun 2020 ini Pertamina malah rugi.

Mulyanto menduga ada faktor nonteknis yang menyebabkan Pertamina mengalami rugi yang begitu besar. Untuk itu Mulyanto minta peran pengawasan Komisaris Utama lebih ditingkatkan.

Menurutnya Pemerintah jangan sungkan mengevaluasi kerja komisaris utama yang sekarang. Jika memang tidak mampu pecat saja. Ganti dengan figur profesional yang memahami kerja dunia perminyakan.

“Pertamina butuh gagasan besar. Bukan omong besar,” tandas Mulyanto.

Diketahui, PT Pertamina (Persero) mencatatkan rugi bersih sebesar USD 767,92 juta atau Rp 11,2 triliun pada semester I-2020.

Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun 2019, yang mana saat itu perseroan tercatat membukukan laba bersih USD 659,96 juta atau sekitar Rp 9,6 triliun.

Dikutip laporan keuangan Pertamina di laman resminya, penurunan laba Pertamina disebabkan pendapatan usaha berkurang dari USD 25,55 miliar menjadi USD 20,48 miliar. Hal ini disebabkan penjualan minyak dalam negeri seperti minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produksi minyak tercatat turun 20,91 persen menjadi USD 16,56 miliar.

slug . '" class="' . $tag->slug . '">' . $tag->name . ''; } } ?>