Berita
Jawaban Rasulullah Ketika Dituding tidak Adil
Nabi Muhammad Saw adalah manusia sempurna yang diciptakan Allah sebagai utusan-Nya. Rasululllah selalu berbuat adil kepada umatnya. Namun, dalam sejarahnya teryata ada yang berani menuduh Rasulullah tidak adil. Dalam buku Tuhan Ada di Hatimu, Habib Husein Ja’far al-Hadar menceritakan, seorang Muslim bernama Dzul Khumaisarah menegur Nabi, “Wahai Nabi, bagilah harta rampasan perang ini secara adil.” […]
Nabi Muhammad Saw adalah manusia sempurna yang diciptakan Allah sebagai utusan-Nya. Rasululllah selalu berbuat adil kepada umatnya. Namun, dalam sejarahnya teryata ada yang berani menuduh Rasulullah tidak adil.
Dalam buku Tuhan Ada di Hatimu, Habib Husein Ja’far al-Hadar menceritakan, seorang Muslim bernama Dzul Khumaisarah menegur Nabi, “Wahai Nabi, bagilah harta rampasan perang ini secara adil.”
Maka, Nabi pun berkata kepadanya, “Celakah engkau! Siapa lagi yang dapat berlaku adil jika aku sudah (dikatakan) tak adil. Sungguh celaka dan rugi jika aku tak dapat berbuat adil. Sungguh celaka dan rugi jika aku tak dapat berbuat adil.”
Lalu Sayiddina Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”. Tapi, Rasulullah kemudian mengatakan,
“Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, di mana sholat kalian akan tampak remeh jika dibandingkan sholat mereka, begitu pula puasa kalian dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Alquran, tapi Alquran tak melewati tenggorokan mereka (hingga masuk ke hatinya). Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya…”
Habib Husein menjelaskan, Nabi Muhammad adalah manusia teragung yang diciptakan Allah sebagai utusan-Nya yang paling mulia. Bahkan, Alquran mengatakan sekadar mengangkat suara kita melebihi suara nabi saja dilarang. Ketika para sahabat mengangkat suaranya melebihi nabi, turun Surat Al-Hujarat ayat 2 dalam Alquran, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”
Sedangkan Dzul Khumaisirah dalam cerita tersebut berani menuduh Nabi tak adil lantaran urusan harta. Menurut Habib Husein, Nabi menegaskan orang seperti Dzul Khumaisirah akan terus ada. Mereka cakap dalam sholat, konsisten dalam berpuasa, dan hafal Alquran, namun ibadahnya tak pernah sampai ke dalam hatinya.
Orang seperti Dzul Khumaisira tampak sebagai seorang yang sangat Islam secara tampilan dan ibadah, namun hati dan sikapnya tidak memrepresentasikan Islam sama sekali. Ia bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Imam Jauzi menyebut Dzul Khumaisirah sebagai Khawarij pertama.
-
EKBIS20/10/2026 17:00 WIBEkonom Ingatkan Bahaya Reputasi Indonesia di Mata Investor Global
-
POLITIK20/10/2026 20:00 WIBGolkar Klaim Indonesia Tumbuh Cepat di Era Prabowo-Gibran
-
DUNIA20/10/2026 21:00 WIBIran Perketat Ancaman di Selat Hormuz
-
POLITIK20/10/2026 09:00 WIBDPR Panggil KPU-Bawaslu soal PKPU
-
NASIONAL20/10/2026 17:15 WIBDua Tahun Prabowo-Gibran, Survei ASI Ungkap CKG dan Sekolah Rakyat Jadi Program Favorit
-
JABODETABEK20/10/2026 07:30 WIBTragis! Pelajar 14 Tahun Tewas Ditabrak Pajero di Mampang
-
DUNIA20/10/2026 08:00 WIBNgeri! Hutan Indonesia Hangus 12 Kali Luas Kota London
-
EKBIS20/10/2026 19:00 WIBIHSG Ditutup Menguat 5,65 Persen ke Level 5.278

















