Berita
Jika Ingin Ungguli Militer China, AS Harus Kuasai Teknologi Robotik
Jenderal tertinggi Pentagon mengatakan Amerika Serikat harus memanfaatkan teknologi robotik dan kecerdasan buatan jika ingin tetap unggul dari China. Ketua Staf Gabungan Jenderal Mark Milley mengatakan Pentagon perlu menempatkan pasukan yang lebih kecil dan mampu dipersenjatai dengan rudal jarak jauh di seluruh Asia. Menurut dia AS harus meminimalkan jejak militernya di luar negeri. Sebab penempatan […]
Jenderal tertinggi Pentagon mengatakan Amerika Serikat harus memanfaatkan teknologi robotik dan kecerdasan buatan jika ingin tetap unggul dari China.
Ketua Staf Gabungan Jenderal Mark Milley mengatakan Pentagon perlu menempatkan pasukan yang lebih kecil dan mampu dipersenjatai dengan rudal jarak jauh di seluruh Asia.
Menurut dia AS harus meminimalkan jejak militernya di luar negeri. Sebab penempatan pangkalan permanen di tempat-tempat seperti Korea Selatan dan Bahrain membuat pasukan AS beserta keluarga dan staf mereka menjadi rentan.
“Saya bukan penggemar pangkalan militer permanen besar AS di luar negeri, di negara orang lain. Pasukan yang lebih kecil, tersebar luas, yang sangat sulit dideteksi akan menjadi kunci bagi militer masa depan,” kata Milley pada simposium daring Forum Pertahanan Washington di Institut Angkatan Laut AS, Kamis (3/12) dikutip dari AFP.
Untuk mencegah China menguasasi Pasifik barat, AS harus memiliki unit berbasis darat di Filipina, Vietnam, dan Australia yang mengoperasikan baterai rudal presisi jarak jauh yang dapat menghancurkan kapal angkatan laut Tiongkok.
Untuk mendukung hal itu, Pentagon perlu merencanakan membangun armada angkatan lautnya menjadi lebih dari 500 kapal pada 2045, termasuk kapal tak berawak, kapal robotik, dan hingga 90 kapal selam. Saat ini, AS baru memiliki sekitar 300 kapal.
“Saya tidak mengatakan Anda akan berperang dengan China. Saya mengatakan kita ingin mencegah perang dengan China, dan kita harus berinvestasi dalam kemampuan pasukan untuk mencegah hal itu terjadi. Anda ingin lawan Anda tahu dengan tegas bahwa jika mereka berselisih dengan AS, mereka akan kalah telak,” ujarnya.
Selain itu, Milley mengatakan saat ini AS berada di tengah perubahan mendasar dalam karakter perang, merujuk pada penggunaan amunisi berpemandu presisi, drone, peralatan robotik lainnya, dan komunikasi satelit yang canggih.
Dia mengatakan, siapa pun yang paling menguasai teknologi tersebut akan menjadi “penentu” dalam perang.
“Jika Anda memasukkan kecerdasan buatan dan Anda melakukan kerja sama manusia-mesin, sertakan pula robotika, masukkan amunisi presisi dan kemampuan untuk merasakan dan melihat, sertakan beberapa senjata hipersonik, dan Anda mendapat perubahan mendasar di medan perang global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Milley mengatakan senjata robotik akan ada di mana-mana dalam 10 atau 15 tahun, di mana China dengan cepat mengembangkan kemampuan tersebut.
“Mereka tidak hanya ingin menandingi kami, tapi melebihi kami, mendominasi kami, dapat mengalahkan kami dalam konflik bersenjata pada pertengahan abad,” kata Milley.
-
NASIONAL20/09/2026 11:00 WIBHabiburokhman: Jangan Sampai RUU Jadi Alat Kekuasaan
-
NUSANTARA19/09/2026 23:00 WIBBelum Sempat Isi Solar, Sopir Truk Meninggal
-
RIAU19/09/2026 22:00 WIBCincang Truk Tronton Jadi Besi Kiloan, Polsek Pangkalan Kerinci Tangkap 8 Pelaku
-
POLITIK20/09/2026 10:00 WIBMenteri ATR/BPN Ternyata Sudah Lama Cabut dari Pengurus Golkar
-
NUSANTARA20/09/2026 14:00 WIBApi Liar Lahap 10 Hektare di Ampana Kota
-
POLITIK20/09/2026 07:00 WIBPrabowo Buka Pintu Reshuffle, PDIP: Kami Tetap di Luar
-
DUNIA20/09/2026 08:00 WIBPBB: Serangan Brutal AS ke Iran Murni Kejahatan Perang
-
NUSANTARA19/09/2026 20:00 WIBWisata Bromo Resmi Dibuka Lagi Usai Karhutla

















