DUNIA
Seruan Trump Amankan Selat Hormuz Tak Digubris
AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terang-terangan meminta sedikitnya tujuh negara untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran komoditas energi dunia. Namun, hingga Senin (16/3/2026), ajakan tersebut dilaporkan belum mendapat respons positif dari negara-negara yang dituju.
Langkah ini diambil Trump menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang telah memicu lonjakan harga minyak global dan ancaman terhadap stabilitas distribusi energi internasional.
Berbicara kepada awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menekankan bahwa negara-negara yang ia hubungi adalah pihak yang paling bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Meski tidak merinci daftar negaranya, sebelumnya AS dikabarkan telah mendekati China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.
“Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari Associated Press.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak terlalu bergantung pada jalur tersebut karena memiliki cadangan energi domestik yang kuat. Ia mencontohkan China yang memperoleh 90 persen kebutuhan minyaknya lewat Selat Hormuz, sementara AS hanya menerima porsi kecil.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa sejumlah negara telah mendekati Teheran secara mandiri untuk meminta jaminan keamanan kapal mereka. Araghchi menegaskan bahwa keputusan akhir lalu lintas laut tetap berada di tangan militer Iran.
Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi navigasi internasional, kecuali bagi Amerika Serikat dan sekutu terdekatnya.
“Kami tidak melihat alasan untuk berdialog dengan AS,” ujar Araghchi kepada CBS. Ia menuduh serangan terkoordinasi Israel dan AS pada akhir Februari lalu sebagai pemicu utama kegagalan negosiasi nuklir dan meningkatnya konfrontasi fisik.
Kegagalan Trump dalam menggalang koalisi militer di Selat Hormuz diprediksi akan terus memberikan tekanan pada harga minyak mentah dunia. Para analis menilai, tanpa adanya pengamanan kolektif, premi risiko pengiriman melalui jalur sempit tersebut akan meningkat drastis.
Kondisi ini semakin diperparah dengan pernyataan Iran yang menolak mengambil kembali cadangan uranium mereka yang tertimbun reruntuhan akibat serangan tahun lalu, yang menandakan kebuntuan diplomasi total antara kedua negara. (Mun)
-
DUNIA02/05/2026 12:00 WIBSenator AS Ungkap Trump Rancang Serangan ke Iran
-
RIAU02/05/2026 16:00 WIBSindikat Narkoba Lintas Negara Dibekuk di Meranti, Polda Riau Sita 27 Kg Sabu
-
EKBIS02/05/2026 17:30 WIBBeri Dampak Sosial-Ekonomi, Danantara Evaluasi Beragam Peluang
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 16:30 WIBYan Mandenas dan Kapolda PPT Pantau Pendistribusian dan Cek Kesiapan Stok Beras di Bulog KC Timika
-
POLITIK02/05/2026 10:00 WIBPKS: Usulan Yusril Soal Threshold Masuk Akal
-
PAPUA TENGAH02/05/2026 23:00 WIBAntusiasme Tinggi Warnai Upacara Hardiknas di SD Naena Kekwa Bersama Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika
-
NASIONAL02/05/2026 18:00 WIBKPAI Minta Proses Hukum Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren Ciawi
-
POLITIK02/05/2026 18:30 WIBMegawati: Pancasila Harus Jadi Ruh Hukum di Tengah Hiper-Regulasi

















