NUSANTARA
Peluru Nyasar Renggut Nyawa Ibu Hamil
AKTUALITAS.ID – Konflik bersenjata di Papua kembali menelan korban dari kalangan warga sipil. Seorang ibu hamil meninggal dunia setelah diduga terkena peluru nyasar dalam insiden penembakan di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Komando Operasi (Koops) TNI Habema menyatakan, berdasarkan hasil analisis awal, tembakan yang memicu insiden tersebut diduga berasal dari kelompok bersenjata yang disebut TNI sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, mengatakan gangguan tembakan terjadi dari tiga titik berbeda sehingga meningkatkan risiko terhadap masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
“Gangguan tembakan kelompok bersenjata di Sugapa menyebabkan warga sipil terkena peluru nyasar. Fakta lapangan menunjukkan tembakan berasal dari tiga titik yang berbeda,” ujar Wirya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut TNI, peristiwa itu terjadi pada Kamis di Kampung Mamba. Berdasarkan laporan lapangan, kelompok bersenjata yang disebut dipimpin Peles Tigau melepaskan tembakan secara bertahap dalam rentang waktu sekitar 15 menit.
Tembakan pertama dilaporkan terdengar sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian, suara tembakan kembali terdengar dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Sekitar pukul 19.00 WIT, tembakan kembali dilepaskan sebelum kelompok tersebut meninggalkan lokasi menuju arah sungai.
Koops TNI Habema menyatakan personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan selama insiden berlangsung. Menurut keterangan TNI, keputusan tersebut diambil karena kondisi hujan, kabut tebal, serta jarak pandang yang sangat terbatas sehingga personel memilih berlindung sambil memantau situasi guna mengurangi risiko terhadap warga sipil.
Wirya menjelaskan hasil analisis spasial menunjukkan ketiga titik asal tembakan berada pada jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter satu sama lain. Sementara lokasi korban disebut berada sekitar 321 meter dari salah satu titik gangguan tembakan dan lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
Menurut TNI, data tersebut menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk merekonstruksi jalannya peristiwa.
“Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya,” kata Wirya.
Koops TNI Habema juga menyatakan penggunaan kawasan permukiman sebagai lokasi aktivitas kelompok bersenjata dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari pihak yang disebut TNI sebagai OPM mengenai peristiwa tersebut maupun terkait tudingan bahwa tembakan berasal dari kelompok mereka. Penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang. (Irawan/Mun)
-
POLITIK04/07/2026 17:30 WIBSaid Didu Sebut Safari Politik Jokowi Masuk Fase “To Kill or Be Killed” dan Sarat Kepentingan Oligarki
-
RIAU04/07/2026 18:30 WIBBengkalis Tampil Konsisten, Raih Peringkat Kedua MTQ Riau ke-44 di Kuansing
-
POLITIK04/07/2026 20:30 WIBRUU Pemilu, DPR akan Temui Ormas dan Partai Non-Parlemen
-
NUSANTARA04/07/2026 22:00 WIBAkses Warga Kembali Normal Usai BNPB Bangun Jembatan Darurat di Temanggung
-
OTOTEK04/07/2026 16:30 WIBGunakan Drone untuk Bertani, Produktivitas Pertanian Merauke Meningkat
-
NASIONAL04/07/2026 19:30 WIBViral Klaim Ongkos Berobat, BPJS Kesehatan Tegaskan Hoaks
-
JABODETABEK04/07/2026 16:00 WIBMensos: Sekolah Rakyat Baru di Jakarta Ditargetkan Tampung 1.000 Siswa
-
NASIONAL04/07/2026 20:00 WIBWartawan Senior PWI Pusat Diapari Sibatangkayu Tutup Usia

















