Connect with us

NUSANTARA

Karhutla Menggila, Kasus ISPA di Jawa Timur Melonjak Drastis

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Udara di Jawa Timur perlahan menjelma menjadi ancaman serius bagi paru-paru warganya. Terjepit di antara ganasnya kemarau panjang, polusi yang tak terkendali, dan kepungan asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kini ‘mencekik’ masyarakat. Angkanya bukan sekadar peringatan ringan: lebih dari 200 ribu warga tumbang hanya di bulan Agustus 2026.

Lonjakan ekstrem ini membuktikan bahwa kualitas udara yang dihirup warga Jatim sedang dalam kondisi kritis. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr. Erwin Astha Triyonno, merinci bahwa rata-rata kasus bulanan di 2026 meroket tajam ke angka 147 ribu kasus. Angka ini melompat jauh dibandingkan rata-rata 117 ribu pada tahun 2025 lalu.

BACA JUGA  BPBD Sumsel: 20 Hektare Lahan Tidur di Ogan Ilir Terbakar

“Pada bulan Agustus itu ada peak-nya, kurang lebih 200.000 sekian. Polanya berkaitan dengan musim kemarau, dibarengi polusi atau kebakaran hutan,” aku Erwin pada Jumat (2/10/2026).

Lima wilayah aglomerasi dan pusat kota otomatis menjadi ‘zona merah’ penyumbang pasien radang pernapasan terbanyak. Surabaya menempati urutan pertama sebagai wilayah yang paling menyiksa paru-paru warganya, disusul ketat oleh Sidoarjo, Lamongan, serta Kabupaten dan Kota Malang.

Di tengah kepanikan udara kotor, publik sempat digemparkan oleh rumor bahwa puluhan ribu warga Jatim terserang wabah Influenza A. Dinkes Jatim langsung menepis spekulasi tersebut. Erwin menegaskan pihaknya sama sekali tidak memegang data spesifik Influenza A di tingkat provinsi. Angka yang memicu kehebohan hanyalah sampel dari site sentinel nasional di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, yang tentu tidak bisa merepresentasikan kondisi 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

BACA JUGA  Kasus Karhutla di Riau Bertambah, 49 Orang Jadi Tersangka dari 45 Perkara

Alih-alih panik dengan hantu Influenza A, ancaman nyata justru ada di udara yang dihirup setiap hari. Virus, bakteri, dan jamur yang menunggangi buruknya kualitas udara adalah dalang utama meledaknya kasus ISPA.

Kini, beban perlindungan diri dilemparkan kembali ke pundak masyarakat. Saat udara bersih menjadi barang mewah, masker dipaksa turun gunung untuk kembali menjadi tameng di ruang publik. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan pun mulai merasakan tekanan, mencatat lonjakan kunjungan pasien hingga 60 persen. Meski Dinkes mengklaim kapasitas faskes “masih mampu laksana,” alarm kewaspadaan tidak boleh diturunkan.

Pemerintah mungkin bisa terus meminta warga untuk “jangan panik” dan “jaga gaya hidup sehat”. Namun, selama Karhutla dan sumber polusi dibiarkan tanpa penindakan ekstrem, imbauan memakai masker hanyalah pereda nyeri sementara bagi jutaan paru-paru warga yang dipaksa menghisap udara kotor setiap harinya. (Kusuma/Mun)

BACA JUGA  Gubernur Sumsel Persiapkan Semua Kebutuhan Menghadapi Anomali Cuaca

TRENDING