Connect with us

EKBIS

Pasar Panik! IHSG Turun Tajam 4% di Sesi Pagi

Aktualitas.id -

Pasar Panik! IHSG Turun Tajam 4% di Sesi Pagi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Perdagangan saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Senin (9/3/2026). Indeks utama bursa Indonesia itu tercatat anjlok lebih dari 4% dan turun ke level 7.200-an.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG pada pukul 09.02 WIB berada di level 7.259, turun 4,31% atau 326 poin dibandingkan pembukaan di level 7.374. Sepanjang awal sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.374 dan terendah 7.252.

Data perdagangan menunjukkan tekanan jual terjadi secara luas di pasar saham. Sebanyak 573 saham melemah, hanya 36 saham menguat, dan 88 saham stagnan.

Penurunan juga terjadi pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat turun 3,91% ke posisi 745,77, sementara hampir seluruh indeks acuan di bursa domestik kompak memerah.

Pada pukul 09.34 WIB, IHSG bahkan tercatat sempat jatuh 4,34% ke posisi 7.259 dari penutupan sebelumnya di 7.585,68. Tekanan tersebut terjadi seiring meningkatnya aksi jual di berbagai sektor saham.

Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi tercatat mencapai 820.790 kali dengan volume perdagangan sekitar 18,1 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp7,9 triliun. Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp16.970.

Dalam menit-menit awal perdagangan, tercatat sekitar 659 saham mengalami penurunan harga, sedangkan 41 saham menguat dan 40 saham bergerak stagnan. Total transaksi hingga pukul 09.43 WIB mencapai sekitar Rp8,27 triliun dengan 18,85 miliar saham diperdagangkan.

Secara kinerja, pelemahan IHSG juga terlihat dalam berbagai periode waktu. Secara mingguan indeks turun 9,48%, dalam tiga bulan terakhir minus 15,08%, dan sepanjang tahun 2025 tercatat melemah 16,07%.

Tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi global yang sedang bergejolak. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung mengambil posisi risk-off, yakni mengurangi investasi pada aset berisiko seperti saham di negara berkembang.

Akibatnya, dana asing yang sebelumnya masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi keluar dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah negara maju atau instrumen berbasis dolar AS.

Fenomena ini dikenal sebagai geopolitical contagion, di mana dampak konflik di suatu kawasan menyebar ke pasar keuangan global dan memicu volatilitas tinggi di berbagai bursa saham.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, seiring perkembangan situasi geopolitik dan pergerakan aliran dana global. (Firmansyah/Mun)

TRENDING