RAGAM
Suhu Laut Hangat Dorong Pembentukan Siklon di Indonesia
AKTUALITAS.ID – Indonesia kini semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya peningkatan intensitas dan pergeseran wilayah pembentukan siklon akibat perubahan iklim dan pemanasan suhu laut.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa selama ini Indonesia dianggap relatif aman karena letaknya di dekat garis khatulistiwa. Namun, kondisi tersebut kini berubah.
“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” jelas Yosef, Minggu (15/3/2026).
Berdasarkan analisis data 1990–2023, ratusan siklon terjadi di wilayah selatan Indonesia, dengan puluhan terbentuk di dalam wilayah Indonesia sendiri. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran pola yang patut diwaspadai. Contoh nyata dampak siklon tropis adalah Siklon Seroja pada 2021, yang menimbulkan hujan ekstrem, banjir bandang, dan korban jiwa.
Yosef menambahkan, kombinasi faktor cuaca global dan suhu laut yang lebih hangat membuat cuaca ekstrem lebih mudah terjadi dan berlangsung lebih lama.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BRIN bekerja sama dengan BMKG mengembangkan sistem prediksi berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mampu memproyeksikan potensi pembentukan siklon beberapa hari sebelum terjadi, memberi waktu lebih bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersiap.
“Kami mengembangkan model prediksi yang dapat membuat sistem peringatan dini lebih akurat. Dengan informasi cepat dan tepat, risiko korban dapat ditekan,” ujar Yosef.
Selain teknologi, BRIN menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca. Strategi adaptasi termasuk pembangunan bangunan tahan angin, penguatan sistem drainase, dan rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir.
BRIN juga mengimbau masyarakat agar memahami peringatan dini dan mengetahui langkah aman saat terjadi cuaca ekstrem, sambil mendorong kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan publik untuk mengurangi risiko. (Firmansyah/Mun)
-
RIAU30/06/2026 20:45 WIBMTQ Riau 2026, Kafilah Bengkalis Raih Dua Gelar Juara Sekaligus
-
FOTO30/06/2026 19:30 WIBFOTO: Dukungan Terdakwa Nadiem Makarim dari Driver Gojek
-
FOTO30/06/2026 21:23 WIBFOTO: KPK Periksa Mantan Menpora Ario Bimo
-
FOTO30/06/2026 20:20 WIBFOTO: Ketum PP Diperiksa KPK Terkait TPPU Pertambangan
-
EKBIS30/06/2026 17:40 WIBLaba Naik 41 Persen, Dwi Shri Farmindo Tbk Tahan Dividen Demi Ekspansi Bisnis
-
NASIONAL30/06/2026 18:00 WIBNadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Chromebook
-
JABODETABEK30/06/2026 18:30 WIBGubernur Pramono Anung akan Bangun JPO di Rasuna Said dengan Konsep Gembok Cinta
-
NASIONAL30/06/2026 19:40 WIBMensos Sambut Usulan Gelar Pahlawan Nasional untuk Sutan Takdir Alisjahbana

















