RAGAM
Eropa Terbakar, PBB Tuding Ketergantungan Fosil Jadi Biang Kerok
AKTUALITAS.ID – Gelombang panas ekstrem yang menyapu Eropa Barat memicu kekhawatiran global. Fenomena yang oleh banyak pengamat dijuluki sebagai “neraka bocor” itu kini bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang terjadi di depan mata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras setelah suhu di sejumlah negara Eropa memecahkan rekor sepanjang sejarah untuk bulan Mei. Prancis, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia hingga Austria dilaporkan mengalami kondisi panas yang jauh di atas normal.
Kepala Iklim PBB Simon Stiell menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi bukanlah fenomena alam biasa. Menurutnya, bukti ilmiah menunjukkan aktivitas manusia dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah memperparah krisis iklim global.
“Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan lebih ekstrem,” kata Stiell.
Dampaknya mulai terlihat nyata. Otoritas Prancis melaporkan sedikitnya tujuh kematian yang berkaitan dengan gelombang panas. Sebagian korban meninggal setelah berupaya mencari kesegaran di area perairan.
Situasi serupa terjadi di Inggris. Empat remaja dilaporkan tewas tenggelam hanya dalam beberapa hari terakhir ketika suhu udara melonjak drastis.
Tak hanya Eropa, India juga menghadapi kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan. Kebakaran hutan terus meluas sementara suhu udara melampaui batas normal. Data pemantau kualitas udara internasional AQI bahkan mencatat 45 kota terpanas di dunia pada hari yang sama seluruhnya berada di India, dengan suhu menembus 43 derajat Celsius.
PBB menilai biaya ekonomi dan kemanusiaan akibat krisis iklim kini semakin mahal. Gelombang panas, kebakaran hutan, gagal panen hingga gangguan aktivitas ekonomi disebut sebagai ancaman nyata yang harus dihadapi negara-negara di seluruh dunia.
Stiell menegaskan bahwa langkah paling mendesak adalah mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan beralih ke energi yang lebih bersih.
Peringatan itu muncul ketika dunia menghadapi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Rekor demi rekor suhu panas terus pecah, sementara para ilmuwan memperingatkan bahwa kejadian ekstrem seperti ini berpotensi menjadi “normal baru” jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah krisis iklim benar-benar terjadi, melainkan seberapa besar dampak yang masih bisa dicegah sebelum gelombang panas berikutnya datang dengan kekuatan yang lebih dahsyat. (Mun)
-
PAPUA TENGAH31/05/2026 17:00 WIBFreeport Lepas 11.000 Bibit Baramundi dan Kepiting di Pesisir Mimika
-
OLAHRAGA31/05/2026 16:30 WIBParis Saint Germain Juarai Liga Champions
-
NASIONAL31/05/2026 16:00 WIBMantan Menhan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia
-
PAPUA TENGAH31/05/2026 21:32 WIBCuaca Laut Mimika Memburuk, BPBD Minta Nelayan Tunda Melaut
-
OTOTEK01/06/2026 08:30 WIBPassword Warga Indonesia Disebut Rawan Diretas dalam Hitungan Detik
-
NASIONAL01/06/2026 13:00 WIBJet PT Jhonlin Bawa Mama Sinta ke Jakarta?
-
JABODETABEK31/05/2026 19:00 WIBGudang Limbah Dilalap si Jago Merah, 12 Armada Dikerahkan
-
RAGAM01/06/2026 06:00 WIBRahmat Bagja: PAW Rentan Disusupi Kepentingan Politik

















