RAGAM
Senyapnya Sesar Baribis Bisa Hancurkan Jakarta Kapan Saja
AKTUALITAS.ID – Di tengah kekhawatiran terhadap ancaman gempa di wilayah penyangga ibu kota, temuan terbaru soal Sesar Baribis Barat justru memunculkan pertanyaan yang lebih mengkhawatirkan: mengapa segmen ini begitu lama diam?
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Tectonophysics pada 2026 mengungkap segmen paling barat Sesar Baribis tidak menunjukkan aktivitas seismik yang jelas selama lebih dari 100 tahun terakhir. Namun, para peneliti menegaskan, sepi bukan berarti aman.
Sesar Baribis selama ini dikenal sebagai salah satu sumber ancaman gempa yang membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah bagian utara, termasuk kawasan yang berdekatan dengan Jakarta. Meski segmen timurnya masih menunjukkan aktivitas tektonik, bagian barat justru terkesan “membeku” dalam diam yang panjang.
Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah pakar gempa memasang tujuh seismometer bawah tanah dan sembilan seismometer permukaan di sepanjang segmen barat sesar tersebut. Pemantauan dilakukan selama hampir 10 bulan, dari September 2024 hingga Juli 2025.
Hasilnya, memang terdeteksi 14 gempa dangkal bermagnitudo 2,0 hingga 3,4. Tetapi setelah dianalisis, sebagian besar tidak berkaitan langsung dengan pergerakan Sesar Baribis Barat. Dua gempa yang tercatat di wilayah Banten justru diduga lebih dekat dengan sesar mendatar lokal di sekitar Serang atau aktivitas panas bumi di kawasan Gunung Karang.
Yang paling mencolok, tidak ditemukan bukti aktivitas seismik yang menandai pergerakan segmen paling barat Sesar Baribis. Data itu diperkuat oleh katalog gempa historis Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) yang juga tidak mencatat adanya gempa kerak dangkal dari segmen tersebut selama lebih dari satu abad.
“Wilayah ini tampak berada dalam kondisi seismik yang tenang untuk waktu yang sangat lama,” demikian kesimpulan peneliti.
Namun justru di sinilah letak persoalannya. Menurut para ahli, kondisi tenang itu tidak otomatis berarti aman. Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan minimnya aktivitas gempa: laju pergeseran sesar yang sangat lambat, deformasi kerak yang berlangsung perlahan tanpa gempa, atau segmen yang justru sedang terkunci dan menyimpan energi tektonik.
Ada pula kemungkinan lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni efek bayangan tegangan dari sistem sesar lain di sekitarnya. Dalam skenario ini, aktivitas gempa bisa tampak mereda sementara, padahal tekanan di bawah permukaan tetap menumpuk.
Analisis GPS juga menunjukkan wilayah segmen barat Sesar Baribis memiliki nilai dilatasi positif, yang berarti kerak bumi di kawasan itu tidak sedang dalam tekanan kompresi kuat sebagaimana biasanya terjadi pada sesar naik aktif. Kondisi ini berbeda dengan segmen timur yang justru memperlihatkan tanda-tanda tektonik lebih aktif.
Bagi para peneliti, semua temuan itu belum cukup untuk menyebut Baribis Barat aman. Justru karena terlalu lama diam, segmen ini menjadi misteri geologi yang perlu terus diawasi.
“Absennya aktivitas seismik belum tentu berarti sesar tidak aktif. Tegangan bisa saja masih terakumulasi dan dilepaskan pada masa mendatang,” tegas tim peneliti.
Artinya, bagi Jakarta dan wilayah sekitarnya, pertanyaan besarnya belum terjawab: apakah Sesar Baribis Barat benar-benar tidur, atau justru sedang menunggu waktu untuk bergerak? (Irawan/Mun)
-
OTOTEK06/06/2026 14:30 WIBHarga Oli Mobil Naik Juni 2026, Cek Daftar Terbaru Sebelum Servis
-
DUNIA06/06/2026 23:00 WIBPasukan IDF Israel Tewaskan Bayi Palestina Berumur 7 Bulan
-
RIAU06/06/2026 20:30 WIBPolisi Selidiki Kecelakaan Maut Tol Pekanbaru–Dumai yang Tewaskan Lima Orang
-
RAGAM06/06/2026 12:30 WIBOJK Blokir 33.836 Rekening Terkait Judol
-
NASIONAL06/06/2026 14:00 WIBDari Peneleh Surabaya, Bung Karno Menjadi Tokoh Besar Indonesia
-
DUNIA06/06/2026 12:00 WIBChina Punya Rudal DF-27 Anti-Kapal Induk
-
NASIONAL06/06/2026 19:00 WIBKursi Wamen Imipas Kosong, Istana: Masih Menunggu Evaluasi
-
NASIONAL06/06/2026 16:00 WIBYusril: Jalur Kilat ITAS dan ITAP untuk WNA Sudah Dihapus

















