Berita
Usai Gencatan dengan Azerbaijan, PM Armenia Nyaris Dibunuh
Aparat keamanan Armenia berhasil menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Nikol Pashinyan, selepas dia meneken perjanjian gencatan senjata dengan Azerbaijan terkait konflik di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh. Seperti dilansir Middle East Eye, Senin (16/11), Badan Keamanan Nasional Armenia (NSS) menyatakan mereka menangkap mantan kepala NSS Artur Vanetsyan, mantan ketua fraksi Partai Republik di parlemen Vahram Baghdasaryan, […]
Aparat keamanan Armenia berhasil menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Nikol Pashinyan, selepas dia meneken perjanjian gencatan senjata dengan Azerbaijan terkait konflik di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.
Seperti dilansir Middle East Eye, Senin (16/11), Badan Keamanan Nasional Armenia (NSS) menyatakan mereka menangkap mantan kepala NSS Artur Vanetsyan, mantan ketua fraksi Partai Republik di parlemen Vahram Baghdasaryan, dan tokoh pejuang Ashot Minasyan. Ketiganya diduga merencanakan skenario untuk membunuh Pashinyan.
“Para tersangka berencana untuk merebut kekuasaan dengan membunuh perdana menteri, dan mereka sudah menyiapkan calon pengganti,” demikian isi pernyataan NSS.
NSS menyatakan mereka menangkap Vanetsyan pada Sabtu (14/11) pekan lalu setelah dipanggil ke markas lembaga itu. Kabar itu dibenarkan kuasa hukum Vanetsyan, Lusine Sahakyan dan Ervand Varosyan.
Vanetsyan juga sempat ditahan dalam aksi unjuk rasa menentang gencatan senjata. Dia dikenal dekat dengan pemerintah Rusia dan menjuluki Pashinyan sebagai pengkhianat bangsa.
Kelompok oposisi kini terus mendesak Pashinyan supaya segera mengundurkan diri. Namun, sampai saat ini dia menolak mengabulkan tuntutan itu.
Dia mengatakan tidak punya pilihan dan harus meneken perjanjian itu, dan menyatakan bertanggung jawab penuh. Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, mengklaim mereka memenangkan konflik itu.
Wilayah Nagorno-Karabakh diakui oleh internasional sebagai bagian dari Azerbaijan. Namun, mayoritas penduduknya adalah etnis Armenia.
Sejak Uni Soviet runtuh, konflik merebak di kawasan itu. Kelompok pemberontak separatis Yerevan yang didukung Armenia menduduki wilayah itu sejak awal 1990-an.
Dalam pertempuran yang kembali meletup sejak akhir September lalu, militer Azerbaijan berhasil merebut sebagian kawasan Nagorno-Karabakh.
Atas kesepakatan gencatan senjata itu, pasukan Armenia diharuskan mundur dari wilayah konflik. Para penduduk sipil Armenia lantas memutuskan membakar rumah mereka yang kini berada di tangan Azerbaijan.
Rusia sudah mengirimkan 2.000 pasukan penjaga perdamaian lengkap dengan kendaraan lapis baja. Sedangkan Turki yang merupakan sekutu Azerbaijan juga berencana mengirimkan pasukan untuk mengawasi proses gencatan senjata.
Armenia mengklaim bahwa 2.317 tentara mereka tewas dalam pertempuran dengan Azerbaijan. Proses pertukaran jasad prajurit dari kedua belah pihak akan terus dilakukan seiring dengan perjanjian gencatan senjata.
-
FOTO22/06/2026 20:05 WIBFOTO: Pemusnahan Pakaian Bermerk Palsu Senilai Hampir Rp. 1 Miliar
-
OLAHRAGA23/06/2026 03:00 WIBInggris vs Ghana: Misi Lolos Grup L Piala Dunia 2026
-
POLITIK22/06/2026 20:06 WIBBajak Kader dari Partai Lain, PSI Dinilai Krisis Figur
-
NASIONAL23/06/2026 08:30 WIBKetua BEM FH UBK Ngaku Terima Rp 20 Juta dari Oknum Polisi Jelang Demo
-
OLAHRAGA22/06/2026 22:10 WIBSiaran Piala Dunia 2026 di Korea Utara Tak Tampilkan Laga Tiga Negara Ini
-
RAGAM22/06/2026 19:45 WIBPersaingan SD Negeri dan Biaya Swasta Bikin Orang Tua Serba Salah
-
POLITIK22/06/2026 20:35 WIBPengamat Sebut Struktur Ketua Harian PSI Bukti Adanya Ketidakseimbangan dalam Manajemen Partai
-
NUSANTARA22/06/2026 23:30 WIBHerman Deru Paparkan Pertanggungjawaban APBD 2025, Tegaskan Komitmen Maksimalkan Kesejahteraan Masyarakat

















