Berita
Atasi “ghost fishing”, KKP Terapkan Sejumlah Regulasi
AKTUALITAS.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan menerapkan sejumlah regulasi untuk mengatasi “ghost fishing” atau alat tangkap ikan yang rusak dan dibiarkan hanyut ke laut sehingga membahayakan sumber daya ikan dan biota laut lainnya. Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Direktorat Alat Tangkap Direktorat Jenderal Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan Kementerian Kelautan Perikanan Lingga Prawitaningrum mengungkapkan, KKP […]
AKTUALITAS.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan menerapkan sejumlah regulasi untuk mengatasi “ghost fishing” atau alat tangkap ikan yang rusak dan dibiarkan hanyut ke laut sehingga membahayakan sumber daya ikan dan biota laut lainnya.
Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Direktorat Alat Tangkap Direktorat Jenderal Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan Kementerian Kelautan Perikanan Lingga Prawitaningrum mengungkapkan, KKP telah menerbitkan Peraturan Menteri KP No 18 Tahun 2021 yang di dalamnya mengatur terkait dengan jalur dan penempatan penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan.
“Di dalam permen tersebut diatur mengenai jenis dan kelompok alat penangkapan ikan ada 10, termasuk mengatur tentang selektivitas dan kapasitas dalam pengoperasionalannya,” kata Lingga Kamis (24/2/2022).
KKP membatasi ketentuan besaran alat tangkap ikan agar tidak mudah terjadi kerusakan dan menyebabkan ghost fishing. Selain itu, KKP juga mengatur mengenai Standar Nasional Indonesia (SNI) bahan baku alat tangkap ikan agar tidak mudah rusak saat digunakan.
Lingga menuturkan bahwa ghost Ffshing memiliki siklus berulang yang membahayakan sumber daya ikan dan biota laut lainnya. Sebagai contoh, alat tangkap ikan berupa gillnet atau jaring insang yang rusak dan dibiarkan hanyut di laut bisa melukai dan membuat ikan tersangkut.
Ketika ikan yang tersangkut itu mati di dasar laut dan terurai, jaring yang rusak tersebut akan kembali hanyut di laut dan melukai ikan lain dan begitu seterusnya.
Selain melukai ikan, jaring yang rusak atau ghost fishing juga bisa merusak biota laut lainnya seperti terumbu karang di dasar laut.
“Kemudian untuk alat tangkap traps atau bubu sudah dilakukan pembatasan untuk kapal di atas 30 GT maksimal di bawah 300 unit,” kata dia.
Lingga menyebut alat tangkap ikan yang mudah rusak dan menyebabkan ghost fishing antara lain gillnet atau jaring insang, kail pancing beserta senarnya yang berisiko putus dan hanyut di laut, dan alat tangkap traps atau bubu.
-
RIAU02/10/2026 09:45 WIBPolresta Pekanbaru Amankan Pria dan Ratusan Butir Ekstasi Disita
-
NUSANTARA02/10/2026 12:30 WIBTragis! 2 Karyawati Tewas Terjebak Kebakaran Toko Bangunan di Jogja
-
NASIONAL02/10/2026 09:00 WIBDPR Desak Kesiapan RS Hadapi Perubahan Besar JKN
-
NASIONAL02/10/2026 10:00 WIBMekeng: Bahlil Harus Naikkan Nilai Tambang RI
-
EKBIS02/10/2026 09:45 WIB10 Menit Rungkad, IHSG Langsung Terjun Bebas ke Bawah 6.000
-
EKBIS02/10/2026 11:30 WIBHarga Emas Antam Merosot Lagi Hari Ini
-
RAGAM02/10/2026 19:30 WIBDenny JA Terima AMA Appreciation Award 2026, Sebagai Pemimpin Korporasi yang Berdampak
-
EKBIS02/10/2026 13:30 WIBBSU Rp900 Ribu Cair Oktober, Cek Namamu

















