DUNIA
Iran Pasang 6 Syarat Akhiri Perang dengan AS
AKTUALITAS.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru. Alih-alih mengibarkan bendera putih, Teheran justru melayangkan ultimatum keras berupa enam syarat mutlak kepada Washington jika ingin mengakhiri peperangan.
Kepala Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa draf persyaratan tersebut telah resmi diserahkan kepada pihak AS melalui Qatar yang bertindak sebagai mediator. Ia menegaskan, Iran tidak gentar sedikit pun terhadap ancaman Presiden Donald Trump dan siap membalas dengan eskalasi militer yang jauh lebih masif jika tawaran damai ini ditolak.
“Kita akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, dan dengan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan,” ancam Rezaei dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera, Sabtu (19/9/2026).
Berdasarkan keterangan Rezaei, berikut adalah enam syarat utama yang dituntut Iran untuk mengakhiri perang dengan AS:
Penghentian perang di semua lini secara total, khususnya di wilayah Lebanon.
Pencairan segera aset dana Iran senilai miliaran dolar AS yang dibekukan.
Pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap seluruh pelabuhan Iran.
Penghentian segala bentuk campur tangan Washington dalam urusan internal Iran.
Pemutusan kerja sama AS dengan kelompok-kelompok penentang revolusi Iran.
Penghentian seluruh serangan militer AS terhadap wilayah kedaulatan Iran.
“Menerima syarat-syarat ini adalah demi kepentingan Washington sendiri,” imbuh Rezaei. Menariknya, dalam tuntutan terbarunya ini, Teheran tidak lagi memasukkan klausul ganti rugi perang dari AS seperti yang sebelumnya selalu disuarakan.
Tuntutan baru ini memiliki benang merah dengan draf nota kesepahaman (MoU) yang sempat diteken Juni lalu. MoU tersebut memuat rencana rekonstruksi senilai US$300 miliar, komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, hingga jaminan Teheran membuka Selat Hormuz untuk jalur pelayaran internasional. Sebagai gantinya, AS dilarang menambah pasukan, menjatuhkan sanksi baru, dan harus mengecualikan sanksi untuk ekspor minyak mentah Iran.
Peneliti senior Timur Tengah di Australian Strategic Policy Institute, Adel Abdel Ghafar, menilai manuver Iran yang membeberkan syarat ini ke publik melalui Qatar adalah strategi psikologis untuk menekan Washington.
“Dengan gagalnya MoU Islamabad, Iran secara terbuka mengembalikan tanggung jawab (keputusan perang) kepada Washington untuk mendapatkan efek maksimal,” analisis Abdel Ghafar.
Saat ini, kedua negara berada dalam kebuntuan strategis. AS memang memegang kendali atas superioritas udara dan blokade laut, namun gagal memaksa Iran menyerah. Di sisi lain, Iran memainkan taktik pengaruh asimetris yang sukses merepotkan posisi Washington di Timur Tengah. Iran diduga tengah bertaruh pada sentimen anti-perang di dalam negeri AS dan momentum pemilihan paruh waktu untuk memaksa Trump menerima syarat tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait enam syarat baru dari Teheran. (Mun)
-
POLITIK21/09/2026 19:00 WIBPengamat Politik Bongkar Strategi Reshuffle Prabowo
-
NASIONAL22/09/2026 06:00 WIBProyek Jalan Jadi Biang OTT Bupati Bolmut
-
PAPUA TENGAH22/09/2026 07:00 WIBPDIP: Usulan Capres 2 Fraksi Masuk Akal
-
EKBIS22/09/2026 09:30 WIBIHSG Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga BI
-
POLITIK22/09/2026 10:00 WIBPrabowo Buka Peluang Reshuffle, Demokrat: Evaluasi Wajib
-
JABODETABEK22/09/2026 06:30 WIBSIM Keliling Jakarta Buka di 5 Lokasi Hari Ini
-
DUNIA22/09/2026 08:00 WIBDibombardir Ukraina, Partai Putin Menang Telak 57,83%
-
DUNIA21/09/2026 21:00 WIBSerangan Houthi ke Riyadh Bikin AS Siaga

















