Connect with us

DUNIA

Presiden Iran Ogah Ketemu Trump

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Pintu diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya masih tertutup rapat. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menolak tawaran pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump, selama Gedung Putih masih menodongkan ancaman dan sanksi berlapis kepada Teheran.

Penolakan tajam ini disampaikan Pezeshkian di tengah kunjungannya ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Dalam wawancara eksklusif bersama Margaret Brennan di program Face the Nation CBS, Pezeshkian secara blak-blakan membongkar krisis kepercayaan yang makin mengakar antara kedua negara.

“Ada atmosfer ketidakpercayaan yang telah berkembang antara Iran dan Amerika Serikat,” tegas Pezeshkian.

Kekecewaan Teheran bukan tanpa alasan. Pezeshkian menuding Washington telah mengkhianati Nota Kesepahaman (MoU) yang susah payah diteken Juni lalu. Alih-alih meredakan tensi, AS justru tancap gas memblokade perairan Iran, menebar ancaman serangan militer, dan menjatuhkan sanksi-sanksi baru.

BACA JUGA  Bahaya! Amunisi Andalan AS Terkuras di Tengah Perang Iran

“Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka,” ujar Presiden Iran tersebut.

Pezeshkian juga meragukan komitmen AS jika negosiasi baru benar-benar digelar. “Setiap hari mereka meningkatkan sanksi, mengancam, menyerang, dan tidak menghormati apa yang telah mereka tulis sendiri. Jika mereka terlibat pembicaraan, apakah mereka akan benar-benar menindaklanjutinya?” sindirnya tajam.

Sikap dingin Iran ini menjadi pukulan bagi manuver Trump yang sebelumnya membuka opsi pertemuan dengan delegasi Iran di New York. Ironisnya, ajakan pertemuan itu dibarengi dengan retorika agresif. Dalam pidatonya di PBB, Trump sempat melontarkan gertakan bahwa dirinya harus membuat keputusan besar: membuat kesepakatan atau “menghancurkan” Iran.

BACA JUGA  Rusia Ejek Klaim Trump soal Hormuz

Kini, bola panas justru berada di tangan Washington. Pekan ini, Iran dilaporkan telah menyodorkan proposal strategis berisi syarat-syarat pembukaan kembali Selat Hormuz—salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Namun hingga detik ini, AS masih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi terkait proposal tersebut. (Mun)

TRENDING