Connect with us

NASIONAL

BMKG: El Nino Super Ancam Indonesia

Aktualitas.id -

Ilustrasi musim kemarau, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Indonesia bersiap menghadapi ancaman fenomena iklim ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi penguatan El Nino yang dapat memperpanjang musim kemarau di berbagai wilayah tanah air pada 2026.

Fenomena ini diperkirakan mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat, dan berpotensi membuat periode kemarau berlangsung lebih panjang serta lebih kering dibanding rata-rata 30 tahun terakhir.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menyebut puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September.

“Perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus–September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata 30 tahun terakhir,” kata Faisal di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut BMKG, dampak El Nino tidak akan merata di seluruh Indonesia. Wilayah yang paling rentan terdampak kekeringan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatra bagian selatan.

Sementara itu, wilayah Indonesia bagian utara seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Kalimantan Utara diperkirakan mengalami dampak yang lebih ringan.

BMKG menegaskan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk penguatan operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah daerah.

Selain itu, pemanfaatan ratusan bendungan di seluruh Indonesia juga dioptimalkan untuk menjaga ketersediaan air selama periode kemarau panjang.

“Kita punya sekitar 220 bendungan di Indonesia, sehingga ketika awan masih ada, kita lakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan air agar swasembada pangan tetap terjaga,” ujar Faisal.

Selain ancaman kekeringan, BMKG juga menyoroti meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah rawan selama periode kemarau ekstrem tersebut.

Pemerintah disebut akan memperkuat langkah pencegahan, termasuk intervensi cuaca di wilayah-wilayah yang berpotensi tinggi sebelum titik api muncul. (Firman/Mun)

TRENDING