EKBIS
Rupiah Jadi Satu-Satunya Mata Uang Asia yang Melemah
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali terpukul pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Ironisnya, pelemahan terjadi justru ketika mayoritas mata uang Asia berpesta penguatan di tengah merosotnya indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Hingga pukul 09.21 WIB, rupiah spot berada di level Rp17.726 per dolar AS atau melemah 0,05% dibanding penutupan akhir pekan lalu di Rp17.717 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menjadi satu-satunya mata uang Asia yang bergerak di zona merah saat mata uang regional lain kompak menguat terhadap greenback.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah bergerak fluktuatif. Pada pukul 09.48 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp17.721 per dolar AS atau turun tipis empat poin. Sementara data Yahoo Finance mencatat rupiah sempat berada di posisi Rp17.712 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah muncul meski indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,24% ke level 99,00 dari posisi sebelumnya 99,23. Biasanya, pelemahan dolar global menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Namun kali ini kondisi tersebut gagal dimanfaatkan pasar domestik.
Mayoritas mata uang Asia justru melesat di zona hijau. Baht Thailand memimpin penguatan dengan kenaikan 0,71%, disusul won Korea Selatan 0,57%, peso Filipina 0,52%, dolar Taiwan 0,39%, ringgit Malaysia 0,29%, dan dolar Singapura 0,26%.
Selain itu, yuan China menguat 0,23%, yen Jepang naik 0,21%, sementara dolar Hong Kong terapresiasi tipis 0,01% terhadap dolar AS.
Pelemahan dolar AS sendiri dipicu meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. Harapan meredanya ketegangan geopolitik membuat harga minyak dunia turun kembali ke bawah US$100 per barel.
Kondisi tersebut ikut meredakan kekhawatiran inflasi global yang sebelumnya melonjak akibat konflik AS-Iran. Sebelumnya, lonjakan harga minyak sempat mendorong dolar AS menguat karena pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed bakal menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski tekanan eksternal mulai mereda, rupiah tampaknya masih dibayangi sentimen domestik dan aksi wait and see pelaku pasar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa mata uang RI masih rentan mengalami tekanan lanjutan apabila arus modal asing belum kembali stabil. (Firman/Mun)
-
POLITIK24/05/2026 14:00 WIBGerindra: Prabowo Utamakan Persatuan di Atas Rivalitas Politik
-
FOTO25/05/2026 05:28 WIBFOTO: Majelis Dakwah Islamiyah Gelar Syukuran di Milad ke-48
-
NASIONAL24/05/2026 16:00 WIBGus Ipul Ungkap 3 Mandat Prabowo agar Bansos Tepat Sasaran
-
NUSANTARA24/05/2026 14:39 WIBKakek 72 Tahun Diadili Gara-Gara Curi Getah Karet untuk Beli Beras
-
DUNIA24/05/2026 18:02 WIBMalaysia Perketat Platform Digital, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Punya Akun
-
RIAU24/05/2026 19:18 WIBPolisi Tangkap 3 Tersangka Pembunuhan Sopir Ekspedisi di Pekanbaru
-
DUNIA24/05/2026 15:00 WIBUEA Waspadai Konflik Baru AS–Iran di Jalur Hormuz
-
OLAHRAGA24/05/2026 18:35 WIBGubernur: Persib Bukti Sukses Klub Profesional

















