Connect with us

NASIONAL

Kebakaran TPA Jatiwaringin, Waka MPR Desak Revolusi Pengelolaan Sampah

Aktualitas.id -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menilai peristiwa tersebut merupakan peringatan serius bahwa pola pengelolaan sampah nasional membutuhkan perubahan yang lebih mendasar.

Menurut Eddy, ketergantungan pada sistem penimbunan (landfill) tidak lagi memadai untuk menghadapi volume sampah yang terus meningkat setiap tahun. Ia mendorong percepatan penerapan teknologi Waste-to-Energy (WTE) yang mampu mengolah residu sampah menjadi energi listrik sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.

“Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah kita sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar. Termasuk di dalamnya adalah memproses sampah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk menjadi energi listrik,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (6/7/2026).

BACA JUGA  Eddy Soeparno: Indonesia Harus Lepas Ketergantungan Energi Fosil

Eddy menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun, sementara sebagian besar masih berakhir di TPA melalui sistem penimbunan. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana, memperbesar potensi pencemaran lingkungan, dan membuat potensi ekonomi dari sampah belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia mendukung langkah pemerintah yang mempercepat pembangunan fasilitas Waste-to-Energy di berbagai daerah. Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Program Waste-to-Energy merupakan salah satu solusi strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Inilah bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah,” katanya.

BACA JUGA  Wakil Ketua MPR Bongkar Praktik Premanisme Ormas yang Resahkan Investor

Meski demikian, Eddy menegaskan bahwa pembangunan fasilitas WTE bukan berarti mengesampingkan upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Ia menilai pemilahan sampah rumah tangga, peningkatan daur ulang, penguatan bank sampah, dan edukasi masyarakat tetap menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah yang terpadu.

Menurutnya, praktik tersebut telah diterapkan di sejumlah negara dengan standar lingkungan yang ketat, termasuk pengawasan emisi dan penggunaan teknologi pengolahan modern.

Eddy berharap insiden kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi momentum untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah nasional dari pendekatan yang berorientasi pada penimbunan menuju sistem yang lebih modern, berbasis teknologi, ekonomi sirkular, dan energi bersih.

“Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperluas TPA. Kita membutuhkan keberanian melakukan lompatan kebijakan melalui percepatan pembangunan Waste-to-Energy sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia yang lebih bersih, lebih sehat, sekaligus lebih mandiri dalam penyediaan energi,” pungkasnya. (Mun)

TRENDING