EKBIS
Ketegangan Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Global
AKTUALITAS.ID – Harga minyak dunia kembali melonjak signifikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Berdasarkan laporan Reuters pada Sabtu (28/3/2026), harga minyak mentah Brent ditutup naik 4,22 persen ke level USD112,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,4 persen menjadi USD99,64 per barel.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, kini menjadi pusat perhatian investor setelah Iran dilaporkan menghambat lalu lintas di kawasan tersebut.
Ketidakpastian ini diperparah oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden Donald Trump yang memperpanjang tenggat negosiasi hingga 6 April belum mampu meredakan kekhawatiran pasar.
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah tuduhan bahwa Israel melakukan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting Iran, termasuk pabrik baja dan fasilitas energi. Tuduhan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons tegas.
Laporan dari Investing.com juga menunjukkan bahwa kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 4,3 persen ke USD112,60 per barel, sementara WTI menguat sekitar 5 persen ke USD99,28 per barel.
Lonjakan harga minyak ini mulai memicu dampak luas terhadap ekonomi global. Biaya energi yang meningkat berpotensi mendorong inflasi, karena ongkos transportasi dan produksi ikut naik. Kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
Di Amerika Serikat, kepercayaan konsumen dilaporkan mulai melemah, mencerminkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi. Situasi ini juga memicu spekulasi bahwa bank sentral seperti Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam inflasi.
Selain itu, investor global mulai beralih ke aset aman seperti emas, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan tercatat mencapai level tertinggi sejak Juli.
Para analis menilai, masa depan harga minyak sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika ketegangan berlanjut atau bahkan meningkat, harga energi berpotensi terus bergejolak.
“Situasi di Selat Hormuz mencekik pasokan minyak global. Prospek harga sangat tergantung pada apakah konflik segera berakhir atau berubah menjadi perang jangka panjang,” ujar mantan pejabat Bank Dunia, Yerbol Orynbayev.
Ia menambahkan, volatilitas harga minyak saat ini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan terbaru, menciptakan siklus ketidakpastian yang sulit dihentikan tanpa perubahan signifikan di lapangan.
Dengan kondisi ini, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam tekanan tinggi dalam waktu dekat, sementara dunia menunggu kepastian atas arah konflik yang terus berkembang. (Mun)
-
RIAU27/03/2026 20:22 WIBPastikan Penanganan Maksimal, Kapolda Riau Turun Langsung Tangani Karhutla Dumai
-
NUSANTARA27/03/2026 18:30 WIBKonsumsi BBM Tinggi, Warga Jateng Diminta Hemat
-
JABODETABEK27/03/2026 17:30 WIBAnggota Satpol PP Meninggal Usai Tabrak Truk Parkir
-
NASIONAL27/03/2026 18:00 WIBWaka MPR Ingatkan Ancaman Krisis Energi Meski APBN Kuat
-
JABODETABEK27/03/2026 19:30 WIBPria di Pesanggrahan Ditangkap Usai Gelapkan Motor
-
DUNIA27/03/2026 19:00 WIBTrump Kecewa Berat NATO Tak Bantu AS Perang Lawan Iran
-
OTOTEK27/03/2026 20:30 WIBWhatsApp Hadirkan Banyak Fitur Baru Berbasis AI
-
DUNIA28/03/2026 00:00 WIBMisteri 83 Persen Rudal Iran ke Negara Arab

















