Connect with us

NASIONAL

Buku Sejarah Indonesia Baru Diluncurkan, Ini Penjelasan Fadli Zon soal 1965

Aktualitas.id -

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan peluncuran lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senin (31/8/2026). AKTUALITAS.ID/Andrey Micko

AKTUALITAS.ID Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan peluncuran lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senin (31/8/2026). Peluncuran tersebut menjadi penyempurnaan dari soft launching yang dilakukan pada 14 Desember 2025 dan membuka akses gratis bagi masyarakat untuk mengunduh buku melalui platform digital pemerintah.

“Lima jilid ini hampir 5.000 halaman. Kita harapkan ini bisa menjadi salah satu acuan dalam penulisan sejarah Indonesia,” kata Fadli.

Buku tersebut disusun oleh 123 pakar yang terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum. Mereka berasal dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga independen di Indonesia.

Fadli menjelaskan, Kementerian Kebudayaan berperan sebagai fasilitator dalam proses penyusunan. Substansi, metodologi, dan narasi sejarah diserahkan kepada para sejarawan dan tim penulis.

BACA JUGA  Soal Kementerian Investasi, Fadli Zon: Jangan Ada Masukan Keliru ke Presiden

“Substansi, metodologi, dan narasi sepenuhnya diserahkan kepada para sejarawan secara independen kepada tim penulis untuk menjaga objektivitas, kebebasan akademik,” ujar Fadli.

Ia menegaskan penyusunan buku sejarah baru tidak dimaksudkan untuk mengubah fakta sejarah. Berbagai peristiwa yang telah tercatat tetap ditulis berdasarkan fakta dan kajian para sejarawan.

Fadli juga menanggapi pertanyaan mengenai penulisan peristiwa 1965 dan pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Ia memastikan peristiwa tersebut tetap dimuat dalam buku.

“Ada dong. Bukan 1965 itu salah satu peristiwa saja kan, bagian,” kata Fadli.

Ia juga menegaskan pemberontakan PKI tetap dicatat sebagai pemberontakan, termasuk peristiwa pada 1948.

“Kalau PKI kan memang memberontak. Jadi kita tidak bilang bahwa dia itu tidak memberontak,” tegas Fadli.

BACA JUGA  Tak Ada Pembuatan Eskalator di Candi Borobudur

Fadli menilai fakta sejarah tidak seharusnya diubah dalam proses pembaruan historiografi. Prinsip tersebut juga berlaku terhadap berbagai pemberontakan lain yang tercatat dalam perjalanan sejarah Indonesia.

“PKI memberontak, nggak akan memberontak. PKI 48 juga memberontak, ya memberontak. Kenapa mau kita ubah jadi tidak memberontak?” ujarnya.

Penyusunan buku tersebut menjadi bagian dari upaya memperbarui penulisan sejarah nasional setelah hampir dua dekade tidak mengalami peremajaan substansial.

Namun, Fadli mengakui 10 jilid yang direncanakan belum mampu membahas seluruh sejarah Indonesia secara mendalam.

“Sejarah Indonesia itu tidak mungkin ditulis hanya dengan 10 jilid. Meskipun ini jilid tebal-tebal, ini baru highlight-nya,” tutur Fadli.

Sejumlah periode dan kerajaan masih perlu dikembangkan melalui kajian yang lebih khusus. Fadli menyebut sejarah Majapahit, Samudera Pasai, Sriwijaya, Pajajaran, pendudukan Jepang, hingga periode 1945–1950 sebagai contoh bagian yang masih dapat diperdalam.

BACA JUGA  Kementerian Kebudayaan Resmi Kelola Sekretariat KNIU, Koordinasi Program UNESCO Diperkuat

Selain menjadi referensi akademik, buku tersebut diharapkan dapat menjadi sumber bagi pengembangan karya sejarah dalam berbagai medium.

“Kita juga ingin mengembangkan satu genre film yang terkait dengan sejarah,” kata Fadli.

Ia melihat film sebagai salah satu sarana untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Film itu selain menjadi tontonan, hiburan, juga menjadi tuntunan,” ujarnya.

Lima jilid pertama buku tersebut dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui platform digital pemerintah. Fadli menyebut berkas digital telah dilengkapi sistem pengamanan untuk mencegah perubahan isi.

“Ini sudah ada watermark, sudah dienkripsi, supaya enggak diutak-atik, diubah-ubah gambarnya oleh orang yang mungkin iseng-iseng,” kata Fadli.

TRENDING