Connect with us

RAGAM

Mas Marco: Wartawan yang Tak Takut Penjara

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Mas Marco Kartodikromo telah menggunakan senjata yang tak kalah berbahaya bagi penguasa kolonial: pena.

Bagi Mas Marco, pers bukan sekadar tempat menyampaikan kabar. Surat kabar adalah ruang untuk membongkar ketidakadilan, membangkitkan kesadaran rakyat, sekaligus menantang kekuasaan kolonial.

Lahir di Cepu pada 1890 dari keluarga priyayi rendahan, Mas Marco semula bekerja sebagai pegawai Nederlansch-Indische Spoorweg pada 1905. Dari lingkungan tersebut ia mempelajari bahasa Belanda sebelum akhirnya meninggalkan dunia kepegawaian dan memilih jalan sebagai wartawan.

Karier jurnalistiknya berkembang setelah bergabung dengan Medan Prijaji yang dipimpin Tirto Adisoerjo di Bandung pada 1911. Dari dunia pers itulah keberanian dan sikap kritis Mas Marco semakin terbentuk.

Ia kemudian terlibat dalam penerbitan dan organisasi pers bumiputera. Melalui surat kabar seperti Doenia Bergerak, Pantjaran Warta, Sinar Djawa, Persatoean Hindia, dan Hidoep, ia menyuarakan kritik terhadap kebijakan serta praktik pemerintahan kolonial.

Tulisan-tulisannya tidak menggunakan bahasa yang berjarak dari rakyat. Mas Marco justru memilih bahasa Melayu yang mudah dipahami, disertai satire, sindiran dan permainan kata untuk menyerang kesewenang-wenangan penguasa.

Konsekuensinya berat.

Mas Marco berkali-kali terseret delik pers. Ia menjalani hukuman penjara berulang kali karena tulisan-tulisannya dianggap menyerang pemerintah kolonial.

BACA JUGA  FOTO: EJC Gelar Kompetisi Mini Soccer dan Donasi Pendidikan

Namun penjara tidak membuatnya berhenti menulis.

Justru dari pengalaman itu lahir sejumlah karya yang kemudian dikenang dalam sejarah sastra Indonesia, antara lain Student Hidjo dan Rasa Merdika atau Hikayat Sudjanmo.

Student Hidjo dan Kritik terhadap Kolonialisme

Student Hidjo, yang terbit pada 1919, menjadi salah satu karya Mas Marco yang paling dikenal.

Novel tersebut bukan sekadar cerita perjalanan dan kehidupan. Di dalamnya terdapat kritik terhadap relasi kolonial serta pandangan tentang masyarakat Hindia dan Belanda.

Pengalaman Mas Marco ketika berada di Belanda turut memengaruhi cara pandangnya. Ia melihat adanya ruang kebebasan berpendapat yang berbeda dengan kondisi masyarakat bumiputera di bawah pemerintahan kolonial.

Pengalaman itu kemudian berkelindan dengan kritik terhadap sikap superioritas kolonial yang ia lihat di Hindia.

Mas Marco mempertanyakan sebuah paradoks: jika masyarakat Belanda sendiri memiliki kehidupan dan kebebasan yang berbeda ketika berada di negerinya, mengapa masyarakat Hindia harus terus berada di bawah kekuasaan kolonial?

Pertanyaan semacam itu membuat karya Mas Marco jauh lebih politis dibanding sekadar karya sastra pada zamannya.

Pers Dijadikan Senjata Perlawanan

Bagi Mas Marco, wartawan bukan pengamat yang berdiri jauh dari persoalan rakyat.

Wartawan harus berani menendang persoalan yang dianggap menghalangi keadilan.

BACA JUGA  UU Pers Kena Imbas dari Omnibus Law

Karena itulah aktivitas jurnalistiknya tidak bisa dipisahkan dari pergerakan politik. Ia terlibat dalam organisasi pergerakan, bekerja bersama tokoh-tokoh radikal pada zamannya, dan menggunakan surat kabar sebagai sarana membangun kesadaran masyarakat.

Mas Marco juga mendorong gagasan persatuan di antara kelompok masyarakat yang sama-sama mengalami tekanan kolonial.

Baginya, perjuangan tidak semestinya dibatasi oleh sekat etnis. Pribumi dan kelompok masyarakat lain yang mengalami penindasan dapat memiliki kepentingan bersama untuk melawan ketidakadilan.

Gagasan “sama rata sama rasa” menjadi salah satu benang merah pemikirannya.

Nasionalisme yang dibayangkannya bukan sekadar kebanggaan terhadap identitas, melainkan perjuangan untuk menciptakan masyarakat yang lebih setara.

Dari Sarekat Islam ke Sarekat Rakjat

Perjalanan politik Mas Marco juga penuh perubahan.

Ia pernah berada dalam lingkungan Sarekat Islam dan kemudian semakin dekat dengan kelompok pergerakan kiri. Pada periode berikutnya ia bergabung dengan PKI dan menjadi salah satu tokoh Sarekat Rakjat.

Aktivitasnya tidak berhenti pada tulisan. Ia terlibat dalam gerakan massa, termasuk aksi-aksi politik dan pemogokan yang mengguncang sejumlah wilayah Jawa pada pertengahan dekade 1920-an.

Bagi pemerintah kolonial, aktivitas semacam itu merupakan ancaman serius.

Setelah pemberontakan 1926, tindakan represif terhadap tokoh-tokoh pergerakan semakin keras. Mas Marco ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digoel, Papua.

BACA JUGA  Lagi, Bupati Muba Fasilitasi Rapid Tes untuk Wartawan, Ormas dan LSM

Di tempat pengasingan itu, ruang geraknya dipersempit. Namun pengasingan tidak menghapus jejak sikap politiknya.

Mas Marco meninggal di Boven Digoel pada 18 Maret 1932, setelah menderita malaria.

Usianya belum tua. Tetapi perjalanan hidupnya telah meninggalkan jejak panjang dalam sejarah pers, sastra dan pergerakan Indonesia.

Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Nama

Mas Marco Kartodikromo tidak hanya penting karena pernah menulis novel atau mendirikan media.

Ia penting karena menunjukkan bagaimana kata-kata dapat berubah menjadi kekuatan politik.

Surat kabar menjadi alat membangun kesadaran. Sastra menjadi ruang kritik. Dan hukuman penjara justru menjadi bagian dari harga yang harus dibayar ketika seorang wartawan memilih berhadapan dengan kekuasaan.

Di tengah sistem kolonial yang membatasi kebebasan, Mas Marco memilih menulis.

Ketika tulisannya dibungkam, ia kembali menulis.

Ketika kritiknya menyeretnya ke penjara, ia tetap membawa gagasan yang sama: bahwa rakyat berhak memahami ketidakadilan yang menimpa mereka.

Karena itu, Mas Marco layak dikenang bukan hanya sebagai pengarang Student Hidjo, tetapi sebagai salah satu tokoh pers dan pergerakan yang menjadikan jurnalistik sebagai medan perjuangan.

Pena Mas Marco memang akhirnya berhenti di tanah pengasingan. Namun gagasan yang ditulisnya terus bergerak jauh melampaui zamannya. (Mun)

TRENDING