POLITIK
BRIN Ungkap Risiko Besar Jika E-Voting Dipaksakan
AKTUALITAS.ID – Wacana penerapan e-voting dalam Pemilu dan Pilkada di Indonesia kembali menuai kritik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia belum siap menerapkan sistem pemungutan suara elektronik secara penuh karena masih memiliki risiko besar terhadap keamanan dan stabilitas pemilu.
Peneliti Utama Politik BRIN, Siti Zuhro, secara tegas menyatakan penolakannya terhadap usulan penerapan e-voting dalam waktu dekat. Menurutnya, infrastruktur digital pemilu di Indonesia masih belum matang dan rentan terhadap potensi gangguan teknis maupun manipulasi.
Ia menilai pengalaman penggunaan sistem digital sebelumnya seperti Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) dan Sistem Informasi Penghitungan (Situng) masih menunjukkan berbagai kelemahan.
“Kita belum sampai e-voting karena empiriknya masih bermasalah. Sirekap seperti itu, Situng seperti itu. Jadi masih ada celah untuk direkayasa,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Siti juga mengungkapkan bahwa dalam sebuah diskusi dengan pihak pengembang sistem, ia sempat menanyakan aspek keamanan e-voting. Namun, pengakuan adanya celah manipulasi justru memperkuat kekhawatirannya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan e-voting secara langsung berpotensi menimbulkan risiko besar.
“Indonesia risk, saya bilang itu. Akan terjadi huru-hara,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemaksaan penerapan e-voting dalam kondisi sistem yang belum matang dapat mengganggu stabilitas nasional, terutama dalam pelaksanaan pemilu yang merupakan agenda politik sensitif.
Karena itu, Siti tidak merekomendasikan penerapan e-voting dalam waktu dekat. Ia menyarankan agar Indonesia terlebih dahulu memperkuat sistem digital yang sudah ada, seperti e-counting atau sistem penghitungan elektronik.
Menurutnya, digitalisasi pemilu sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari perbaikan sistem penghitungan suara sebelum beralih ke tahap yang lebih kompleks seperti e-voting.
“Iya, tidak usah e-voting langsung. E-counting dulu. Kalau sudah matang, baru bisa ke e-voting,” pungkasnya.
Wacana digitalisasi pemilu ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan, terutama terkait kesiapan infrastruktur, keamanan data, serta potensi dampaknya terhadap kepercayaan publik. (Bowo/Mun)
-
DUNIA19/07/2026 12:00 WIBMilisi Irak Umumkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Targetkan Trump
-
POLITIK19/07/2026 09:00 WIBPBB Resmi Jadi Garda Terdepan Pemerintahan Prabowo Subianto
-
EKBIS19/07/2026 11:00 WIBBahlil: Blok Masela Bisa Hasilkan Rp585 Triliun untuk Negara
-
JABODETABEK19/07/2026 09:30 WIBPolisi Tangkap Pelaku Utama Penyekapan Wanita di Cikarang
-
RIAU19/07/2026 13:30 WIBRiau Bhayangkara Run 2026 Jadi Ajang Sport Tourism dan Kampanye Pelestarian Lingkungan
-
POLITIK19/07/2026 18:00 WIBAtribut PSI Lebih Banyak daripada Kader Partai
-
JABODETABEK19/07/2026 11:30 WIBPeringatan Kemarau! Bendung Katulampa Sentuh 0 Sentimeter
-
NASIONAL19/07/2026 10:00 WIBAhli Hukum: Penetapan Tersangka Tanpa Pemeriksaan Berpotensi Cacat Hukum

















